News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Agar game buatan Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suara teriakan penjual tahu bulat datang dari arah sudut ruangan pameran game Indonesia di Balai Kartini, Jakarta, November lalu. Namun, tiada gerobak tahu atau penjual tahu yang tampak.

Suara tadi merupakan bagian dari permainan atau game Tahu Bulat yang dikembangkan Own Games, salah satu pembuat game asal Bandung, Jawa Barat. Game itu terbilang sukses karena sejak dilempar ke pasaran pada Mei lalu, permainan tersebut telah diunduh hampir tujuh juta kali.

Eldwin Viriya, pendiri Own Games, enggan menyebutkan secara gamblang berapa uang yang telah dia keluarkan untuk menciptakan game itu dan berapa penghasilan yang telah dia kantongi.

"Kalau bikin game, budgetnya pasti besar, pasti puluhan hingga ratusan juta rupiah. Untuk revenue per bulan agak random, yang namanya bisnis entertainment revenuenya bukan sesuatu yang stabil. Tapi revenue kita sudah enam digit dollar Amerika Serikat, ratusan ribu," ujar Eldwin.

Untuk bisa merebut pangsa pasar di Indonesia, Eldwin mengaku sengaja memilih tema kuliner khas Indonesia. "Sebab itu sesuatu yang dekat dengan masyarakat," katanya.

Eldwin Viriya mendirikan perusahaan Own Games dan menciptakan game Tahu Bulat. Kini, dia sudah meraup penghasilan ratusan ribu dollar AS.

Makhluk halus khas Indonesia

Kedekatan dengan budaya lokal juga menjadi modal bagi pembuat game Indonesia lainnya.

Digital Happines, misalnya, mengembangkan permainan komputer berjudul Dreadout yang mengambil tema berupa mahkluk halus khas Indonesia, seperti tuyul dan kuntilanak. Konsep ini laku dijual di kalangan pemain game internasional, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.

Rachmad Imron, pendiri Digital Happines, tertawa ketika ditanya apakah dia pengekspor kuntilanak pertama ke AS dan Eropa?

"Hahaha, bisa dibilang begitu," kata pria lulusan Institut Teknologi Bandung itu.

Dengan bermodal kisah petualangan seorang murid sekolah yang dihantui tuyul dan kuntilanak, Rachmad berhasil menjual game seharga US$14,99 per edisi.

"Satu bulan pertama sejak diluncurkan pada 2014, kita bisa mendapat US$150.000 (sekitar Rp2 miliar)," kata Rachmad.

Lalu berapa penghasilannya sekarang, Rachmad tersenyum sembari menggeleng.

"Alhamdullilah sampai sekarang mencetak keuntungan. Kita bisa mengamankan uang untuk pengembangan proyek selanjutnya, lalu staf kita dari empat orang sekarang sudah 20 orang," kata Rachmad.

Digital Happines mengembangkan permainan komputer berjudul Dreadout yang mengambil tema berupa mahkluk halus khas Indonesia, seperti tuyul dan kuntilanak.

Berjuang mencari modal

Bagaimanapun, kisah sukses pembuat game Indonesia didapat tidak semudah memencet tombol ponsel. Menurut Rachmad Imron, dia menyisihkan dana pribadi beberapa tahun lalu untuk memodali perusahaannya.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini