Selama bertahun-tahun, di kalangan korps diplomatik Prancis, Boris Boillon dikenal sebagai diplomat dengan bintang yang tengah naik daun.
Namanya melambung saat mendapat julukan duta besar Prancis termuda di bawah Presiden Nicolas Sarkozy dengan penugasan di Irak dan Tunisia. Ketika itu ia menyebut dirinya 'Sarko Boy' atau kira-kira anak emas Sarkozy.
Sekarang, Boillon diadili di Paris setelah pada 2013 diketahui membawa uang kontan 350.000 euro dan US$40.000 atau sekitar Rp5,7 miliar saat berusaha naik kereta dengan tujuan Belgia.
Ia menghadapi tuduhan penghindaran pajak.
- Bagaimana Macron hanya butuh satu tahun untuk jadi presiden Prancis?
- Emmanuel Macron dilantik sebagai Presiden Prancis ke-25
- Emmanuel Macron: Kekuatan pesona sang presiden terpilih Prancis
Berdasarkan undang-undang di Prancis, uang kontan yang melebihi nilai 10.000 euro yang dibawa melintasi perbatasan Uni Eropa harus dilaporkan. Ketika ditahan, Boillon membawa uang kontan 350.000 euro dan US$40.000.
Menurut berbagai laporan, uang tersebut dalam pecahan uang kertas 50 euro, 100 euro, 200 euro dan 500 euro.
Siapa Boillon?
Selain dikenal sebagai 'Sarko Boy', ia juga pernah tampil di sampul majalah selebritas dengan judul berita 'James Bond-nya kalangan diplomat'.
Ia selalu tampil perlente dengan jas hitam dan kemeja putih.
Kariernya yang cemerlang di bawah Sarkozy terhenti seiring dengan berakhirnya kekuasaan Sarkozy di Paris. Tahun lalu ia kembali aktif di lingkungan diplomatik dengan bertugas di kantor PBB di New York.
Soal uang kontan Rp5,7 miliar, Boillon beralasan bahwa uang ini adalah bayaran atas kerjanya sebagai konsultan di Irak.
Ia mengatakan bekerja untuk perusahaan yang terlibat program rekonstruksi di Irak. Uang kontan ini, katanya, juga sudah dilaporkan oleh perusahaan konsultansi, Spartago.
Baca tanpa iklan