TRIBUNNEWS.COM, DUBAI – Seorang jurnalis Palestina yang bekerja sebagai koresponden Al Jazeera Mubasher tewas dalam serangan drone Israel di Gaza, Rabu (8/4/2026).
Kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan Mohammed Wishah tengah mengemudi di jalan utama kawasan Sheikh Ajlin, sebelah barat Kota Gaza, saat kendaraannya terkena serangan.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kendaraan tersebut terbakar hebat.
Namun, rekaman itu belum dapat diverifikasi oleh Arab News.
Dikutip dari Arabnews, kantor Media Pemerintah Gaza mengecam insiden tersebut dan mendesak komunitas internasional serta organisasi kebebasan pers untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas dugaan kejahatan terhadap jurnalis, termasuk membawa kasus ini ke pengadilan internasional.
Baca juga: Respons Presiden Iran usai Israel Gempur Lebanon: Perundingan Jadi Tak Berarti
Dalam pernyataannya, Al Jazeera mengutuk keras pembunuhan Wishah, menyebutnya sebagai pelanggaran serius hukum internasional dan bagian dari pola penargetan jurnalis secara sistematis.
Al Jazeera menegaskan pembunuhan ini bukan tindakan acak, melainkan serangan yang disengaja untuk mengintimidasi jurnalis dan membungkam penyampaian fakta.
Kecaman serupa disampaikan organisasi kebebasan pers, Reporters Without Borders (RSF).
Mereka menyebut Wishah menjadi bagian dari lebih dari 220 jurnalis yang tewas dalam dua setengah tahun terakhir akibat serangan pasukan Israel di Gaza, dengan sedikitnya 70 orang di antaranya meninggal saat menjalankan tugas jurnalistik.
Militer Israel, Kamis (9/4/2026) menyatakan pihaknya telah menyerang dan menewaskan Wishah sehari sebelumnya.
Israel menuduh Wishah sebagai teroris kunci dalam unit produksi roket dan senjata Hamas yang disebut tengah merencanakan serangan terhadap tentara IDF.
Israel juga mengklaim Wishah beroperasi dengan kedok sebagai jurnalis untuk menjalankan aktivitas militan.
Namun, tuduhan serupa sebelumnya kerap dibantah organisasi kebebasan pers karena dinilai tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi.
Sindikasi Jurnalis Palestina mencatat, sejak perang dimulai pada Oktober 2023, sebanyak 260 jurnalis telah tewas dan 550 lainnya terluka.
Selain itu, 39 jurnalis masih ditahan, serta sekitar 150 institusi media dilaporkan hancur.
Baca tanpa iklan