TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei disebut sempat dibawa ke rumah sakit setelah pecahnya perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.
Hal ini diketahui sebagaimana laporan kantor berita semi-resmi Iran, ISNA, pada Senin (18/5/2026), mengutip seorang pejabat kementerian kesehatan Iran.
Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei, tewas dalam serangan di Teheran pada hari pertama konflik.
Sementara itu, Mojtaba Khamenei diketahui belum pernah tampil di depan publik sejak awal perang.
Kepala pusat hubungan masyarakat dan informasi kementerian kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengungkapkan Mojtaba Khamenei sebelumnya mengalami cedera ringan.
“Luka-luka tersebut bukanlah jenis luka yang akan merusak wajah pemimpin tertinggi, juga tidak akan membuatnya cacat atau mengakibatkan amputasi anggota tubuh,” kata Hossein Kermanpour, dikutip dari Al Arabiya.
“Beberapa jahitan diterapkan pada luka-luka tersebut. Salah satu area yang diputuskan dokter untuk segera dijahit adalah kakinya," papar dia.
Adapun perang dimulai pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran.
Konflik tersebut dengan cepat meningkat menjadi salah satu perang regional paling berbahaya dalam beberapa dekade, mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, mengguncang pasar energi global, dan menyebabkan serangan rudal dan pesawat tak berawak di seluruh Timur Tengah.
Gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada 8 April 2026, meskipun ketegangan masih tetap tinggi.
Baca juga: Trump Batalkan Serangan, Iran Peringatkan AS agar Tak Salah Perhitungan, Klaim Lebih Siap dan Kuat
Diyakini Terlibat dalam Strategi Perang Iran
Badan intelijen Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, terlibat dalam membentuk strategi perang Teheran dan negosiasi dengan Washington.
Diberitakan Anadolu Agency, Mojtaba Khamenei diyakini terlibat meskipun tetap tidak tampil di depan publik setelah mengalami cedera selama perang.
Sumber-sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS, mengatakan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar otoritas yang saat ini dijalankan Khamenei dalam struktur kepemimpinan Iran setelah serangan dalam perang tersebut menewaskan beberapa pejabat senior, termasuk ayahnya yakni Ali Khamenei.
Para pejabat AS dilaporkan meyakini bahwa Mojtaba Khamenei terus berkomunikasi melalui kurir tepercaya dan kontak langsung saat pulih dari cedera yang meliputi luka bakar dan luka akibat pecahan peluru.
Sementara itu, para pejabat Iran bersikeras bahwa Mojtaba Khamenei pulih dengan baik.
Baca tanpa iklan