News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Vaksin tifus terbaru 'bekerja sangat baik' dalam memerangi bakteri yang kebal terhadap antibiotik

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Vaksin tifus yang baru dikembangkan berfungsi "sangat baik" dan tengah digunakan untuk menghentikan jenis infeksi yang nyaris tidak dapat diobati, kata para dokter.

Beberapa kasus penyakit akibat bakteri turun hingga lebih dari 80% dalam uji coba, demikian temuan terbaru yang dimuat New England Journal of Medicine.

Para ahli mengatakan, vaksin itu berperan penting dan akan mengurangi dampak buruk tifus.

Sembilan juta anak saat ini sedang diimunisasi di Pakistan, di mana tifus kini sangat kebal terhadap antibiotik.

Apa itu demam tifus?

Demam tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang mudah menular dan menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi.

Ini adalah penyakit yang identik dengan kemiskinan, dan banyak dijumpai di negara-negara dengan sanitasi buruk dan kekurangan air bersih.

Gejala-gejala seseorang terpapar virus tifus:

  • Demam berkepanjangan
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Kehilangan selera makan
  • Sembelit

Demam tifus akan menyebabkan komplikasi fatal, seperti pendarahan internal, yang perbandingannya saat ini diidap satu dari 100 orang di dunia.

Jumlah tepat orang yang terjangkiti tifus masih sulit disimpulkan, namun diperkirakan menyerang antara 11 dan 21 juta orang di seluruh dunia setiap tahun dan membunuh 128.000 hingga 161.000 orang.

Apa yang terjadi di lokasi uji coba?

Lebih dari 20.000 anak - berusia sembilan bulan hingga 16 tahun - di kawasan lembah Kathmandu, Nepal, ikut serta dalam uji coba tersebut.

Tifus merupakan masalah kesehatan utama pada masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Sekitar setengah dari anak-anak diberi vaksin tifus. Pemberian vaksin ini menurunkan angka kasus tifus hingga 81% pada tahun pertama proses uji coba.

"Uji coba berlangsung sangat baik dalam mencegah penyakit ini menyerang sejumlah anak-anak yang paling rentan di dunia," kata Prof. Andrew Pollard, dari University of Oxford, yang terlibat dalam uji coba, kepada BBC News.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini