Satchidananda Panda, seorang profesor di Salk Institute dan salah satu penulis penelitian tersebut, mengatakan "penelitian lebih lanjut diperlukan" untuk menentukan apakah pembatasan waktu makan atau puasa intermiten dapat benar-benar membantu menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh diet yang tidak sehat. Panda menambahkan, bahwa hasil penelitian juga menunjukkan "orang dapat tidur lebih nyenyak dan merasa lebih segar di pagi hari" saat melakukan diet 10:14.
Panda juga diketahui pernah menulis buku soal puasa intermiten, yang subjudulnya berbunyi: "Menurunkan berat badan, menambah energi dan menjaga kesehatan Anda dari pagi hingga tengah malam."
Baca juga: Kurang Tidur Bisa Akibatkan Kegemukan
Tidak lebih baik dari diet konvensional
Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa puasa intermiten tidak lebih efektif daripada metode diet konvensional yang menurunkan kalori dengan tujuan menurunkan berat badan atau meningkatkan kadar insulin.
Sebuah penelitian baru-baru ini yang juga ditulis oleh Kühn, dilakukan selama 50 minggu lamanya, membandingkan puasa intermiten 5:2 dengan metode konvensional, di mana peserta mengurangi asupan kalori harian mereka sebanyak 20%. Sementara kelompok ketiga tidak mengubah diet mereka.
Para peneliti menemukan baik puasa intermiten dan diet konvensional berhasil menurunkan berat badan dan lemak dibandingkan dengan kelompok ketiga. Beberapa parameter kesehatan, seperti kadar insulin dan lipid, juga membaik. Tetapi hasilnya hampir identik untuk kedua jenis diet.
"Kami tidak menemukan bukti sama sekali sebuah efek yang lebih kuat atau manfaat lebih besar dari puasa intermiten," ujar Kühn kepada DW. "Itu sama efektifnya dengan diet pengurangan kalori harian."
Sementara Kühn mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mempercayai hanya satu penelitian. Dua penelitian perbandingan lain dari Norwegia dan Australia yang dilakukan pada waktu yang sama menemukan hasil yang persis serupa - puasa intermiten 5:2 tidak lebih efektif daripada diet konvensional.
Baca juga: Dari Udara Hingga Gas Metana, Usaha Manusia Cari Pengganti Daging
Sulit untuk diikuti
Panda, bagaimana pun mengatakan puasa intermiten 10:14 menjadi daya tarik utama, karena menurutnya lebih mudah diikuti daripada bentuk puasa intermiten atau diet konvensional lainnya.
"Bahkan jika dua metode berujung pada hasil yang serupa, mengapa Anda lebih memilih sesuatu yang sulit diikuti?" kata Panda.
Permasalahan muncul ketika hasil penelitian berskala kecil dan sejumlah buku tentang puasa intermiten menuliskan bahwa puasa ini dinarasikan sebagai solusi ajaib, seperti diet pada umumnya. Padahal kenyataannya, ditinjau dari sisi ilmu pengetahuan tidak begitu jelas.
"Jika seseorang menemukan bahwa puasa intermiten berfungsi, maka saya akan mengatakan itu adalah metode yang cocok bagi mereka. Tapi itu bukan solusi universal untuk masalah kesehatan bagi semua orang," jelas Kühn.
Mengingat bukti yang Kühn dan rekannya miliki sejauh ini, ia mengatakan komunitas ilmuan mungkin lebih baik mencari kebijakan-kebijakan (seperti penerapan pajak gula di Inggris) sebagai langkah untuk mencegah obesitas dan kebiasaan makan yang tidak sehat, demi mengubah perilaku makan seseorang.
rap/pkp
Baca tanpa iklan