News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Media Asing Soroti 10 Cara Orang Asia Melawan Virus Corona

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas melakukan pengecekan suhu tubuh penumpang dengan thermo gun (infrared thermometer) di ruang tunggu Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (5/3/2020). Pengecekan itu sebagai antisipasi terhadap penyebaran virus corona. Antisipasi tersebut terus digencarkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Surya/Ahmad Zaimul Haq

Di Hong Kong, orang-orang memakai sarung tangan ketika berpergian.

Kampanye institusional serupa membantu kesadaran individu lebih tinggi di antara warga.

Hal itu dapat membantu mencegah menahan penyebaran virus secara global.

6. Jam Kerja Fleksibel

Jutaan orang Asia bekerja dari rumah sejak virus corona semakin meluas.

Selama lebih dari satu bulan, orang-orang bekerja dengan jam kerja yang lebih fleksibel.

Beberapa perusahaan mengirim semua karyawan pulang.

Tentu saja ada kesulitan dalam kebijakan ini.

ILUSTRASI (NET)

Bila sekolah diliburkan, orang tua yang bekerja dari rumah mungkin juga perlu merawat anak-anak mereka.

Bekerja dari jarak jauh tidak praktis bagi sebagian orang yang bekerja di bidang industri layanan pelanggan.

Di Hong Kong, beberapa karwayan buka suara kepada Cnn, mereka merasa frustasi saat atasannya tidak mengizinkan mereka bekerja dari jarak jauh.

Menurut para karyawan, keputusan atasan mereka membuatnya dalam risiko infeksi tinggi.

7. Jangan 'Panic Buying'

Di Hong Kong, bulan Februari ini ditandai dengan 'panic buying'.

Pasokan di pertokoan kosong lantaran orang-orang khawatir beberapa barang menjadi langka.

Kebutuhan pangan dan lain sebagainya di pasar swalayan tercatat terjual habis.

Sebuah pengumuman masker dan hand sanitizer kosong dipasang di depan pintu masuk sebuah minimarket di Jalan Simpang Wilis, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (3/3/2020). Menurut pegawai minimarket, masker dan hand sanitizer di toko tersebut kosong sejak dua minggu lalu. Kelangkaan masker di Kota Malang terjadi sejak maraknya penyebaran virus corona COVID-19. Surya/Hayu Yudha Prabowo (Surya/Hayu Yudha Prabowo)

Sebagian orang membeli cukup banyak untuk pasokan beberapa minggu.

Bukan hanya tisu toilet, orang-orang mengambil masker, pembersih tangan, perlengkapan kebersihan dan makanan pokok.

Panic buying memicu kekacauan dan ketakutan yang tidak perlu.

8. Jangan Takut Hewan Peliharaan

Satu ekor anjing dites positif mengidap virus corona di Hong Kong, minggu lalu.

Hasil tes yang menunjukkan positif itu memicu kekhawatiran terhadap hewan peliharaan yang dapat menangkap dan menularkan virus ke pemiliknya.

Para ahli mengungkapkan, dipastikan penyebaran virus corona bukan dari hewan.

Cuci tangan Anda setelah menyentuh hewan peliharaan Anda.

Bila benar-benar khawatir, usap kaki hewan peliharaan Anda dengan tisu antiseptik setelah mereka berada di luar.

FOTO ILUSTRASI ANJING KENAKAN MASKER - FAKTA di Balik Kabar Anjing Positif Virus Corona, Ada Beberapa Hal yang Belum Diketahui Ilmuwan (via Daily Mail)

9. Jangan Menstigma Pasien

Ketika virus menyebar, begitu pula dengan rasa takut: paranoid dan diskriminasi.

Para ahli memperingatkan soal stigma pasien.

Misalnya, karantina begitu penting dalam proses menekan penyebaran virus corona.

Tetapi bila dilakukan dengan cara yang salah, pasien dapat berpotensi diperlakukan kurang bermartabat dan hormat.

Pasien virus Corona sembuh (China Press via World of Buzz)

10. Jangan Panik

Sementara pemerintah dan warga negara harus bersiap menghadapi virus, hal terpenting adalah tidak panik.

Berdasar data yang tersedia saat ini, virus corona diperkirakan memiliki tingkat kematian sekira dua persen.

Data tersebut lebih tinggi dari influenza, tetapi jauh lebih rendah daripada SARS.

Bagi banyak orang virus corona memiliki gejala yang sama dengan flu biasa.

Lebih jauh, di China, lebih dari setengah kasus telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit.

Bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, orang tua dan yang sangat muda, ada kemungkinan virus dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius seperti pneumonia atau bronkitis.

Orang dengan gejala yang terasa lebih buruk daripada pilek biasa harus mengunjungi dokter mereka.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini