News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Awal Virus Corona Diduga Bukan dari Kelelawar, Tapi Manusia di Pasar Hewan Liar Wuhan

Editor: Imanuel Nicolas Manafe
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Personel keamanan yang mengenakan APD berdiri di depan Rumah Sakit Leishenshan Wuhan di Wuhan, di provinsi Hubei tengah Cina pada 11 April 2020.

Sebab, virus itu begitu stabil dari pada disebut beradaptasi secara cepat di manusia.

Ketiganya menuturkan, virus pertama, yang terdeteksi pada Desember 2019, sudah mengembangkan adaptasi untuk menyerang manusia.

Chan, Zhan, dan Deverman memaparkan ketika wabah SARS 2002-2004, mereka menemukan evolusi hingga beberapa cabang baik di orang hingga hewan.

Sementara SARS-Cov-2 nampaknya tak punya jaringan pada akhir 2019.

Menunjukkan virus itu cukup masuk sekali ke orang sebelum menghantam populasi.

Tim pakar menyatakan, mereka tak punya bukti jika patogen itu bisa beradaptasi dengan baik, sehingga bisa bermutasi tanpa terdeteksi, atau rumor berasal dari lab di Wuhan yang bocor.

Mereka hanya menekankan bahwa kegagalan mendeteksi segala cabang evolusi dari penyebaran pertama menjadi sumber perhatian mereka.

Studi itu memaparkan hasil pemeriksaan genetik empat sampel, yang diambil dari Pasar Seafood Huanan serta yang berasal dari pasien.

Hasilnya, keempat sampel itu menunjukkan 99,9 persen identik, baik yang diambil dari lokasi pasar maupun dari pasien yang dirawat.

Hasil itu mengindikasikan SARS-Cov-2 tersebut muncul ke pasar hewan liar oleh manusia yang kemungkinan sudah terinfeksi.

Kepada Daily Mail, para penulis mengonfirmasi bahwa mereka tidak emnemukan bukti terjadi transmisi antar-spesies di Pasar Seafood Huanan.

Mereka mengutip penelitian yang dilakukan ilmuwan China, dan kemudian diterbitkan di jurnal Zoological Research pada Mei ini.

Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa Covid-19 diyakini dibawa ke pasar basah oleh seseorang setelah menggelar pemeriksaan.

Studi ini juga sesuai dengan karya lain peneliti China, diterbitkan di Lancet pada awal tahun ini, di mana mereka menemukan hanya 21 dari 41 kasus infeksi yang terkonfirmasi "terpapar" dari pasar.

Chan dan koleganya menjelaskan, temuan mereka bisa jadi memberi kelegaan.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini