"Daging bisa dianggap sebagai tubuh utama. Secara visual mirip dengan kari, tetapi rasanya berbeda dengan kari. Tampaknya rempah-rempah seperti Galanger, Bintang Anis (segi delapan), dan jeruk nipis, yang jarang terlihat sebagai bahan dalam kari India," ujar dia.
Secara lokal, diperlakukan seperti suguhan makan di setiap perayaan.
Baca juga: Mengenal Budaya Mengembalikan Barang Hilang di Jepang, Sudah Diajarkan Sejak Kecil
"Pastinya, jika menggunakan bumbu yang begitu banyak, akan sulit untuk mengumpulkan bahan-bahannya, dan Anda bisa berharap menghabiskan banyak uang. Butuh waktu dan tenaga untuk memasak," ujar dia.
Kesimpulannya, jika terbiasa dengan kari India dan makanan Thailand, kita bisa menikmatinya dengan cara yang sama, tetapi bagaimana jika tidak pandai memasak yang sangat terasa bumbunya itu?
"Saya pikir beberapa orang mungkin tidak pandai dalam hal itu. Secara pribadi, saya sangat menyukai aroma dari berbagai jenis rempah-rempah, dan kali ini saya ingin pergi ke toko dan menyantapnya."
Seorang mantan menteri perdagangan kepada Tribunnews.com beberapa waktu lalu juga pernah menyantap rendang di Tokyo dan pemiliknya mengembangkan banyak restoran Indonesia di Jepang.
"Mengapa orang Jepang bisa buka 600 restoran Jepang di Indonesia dan orang Indonesia tak bisa buka banyak restoran Indonesia di Jepang?" tanya sang mantan menteri kepada Tribunnews.com.
Setelah dijelaskan impor bahan mentah Indonesia cukup mahal kalau masuk Jepang dan sulit menjualnya dengan harga mahal di Jepang, akhirnya mantan menteri itu baru menyadari adanya hambatan tersebut.
Jumlah restoran Indonesia di Jepang kurang dari 50 toko yang ada di Jepang saat ini.
Sementara itu telah terbit buku baru "Rahasia Ninja di Jepang" berisi kehidupan nyata ninja di Jepang yang penuh misteri, mistik, ilmu beladiri luar biasa dan penguasaan ilmu hitam juga. informasi lebih lanjut ke: info@ninjaindonesia.com
Baca tanpa iklan