News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Inggris: Vaksin Booster Punya Efektivitas hingga 75 Persen Terhadap Varian Omicron

Penulis: Yurika Nendri Novianingsih
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang petugas kesehatan angkatan darat menunjukkan botol vaksin Pfizer-BioNTech untuk melawan virus corona Covid-19 di Kolombo pada 7 Juli 2021 - Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA): vaksin booster Covid-19 memiliki efektivitas hingga 75% terhadap Omicron.

Namun kini para menteri dilaporkan menyusun rencana baru yang lebih ketat untuk tahun baru.

Rencana B yang diumumkan oleh Perdana Menteri pada hari Rabu (8/12/2021) lalu, di antaranya diberlakunya kembali bekerja dari rumah, perlunya paspor vaksin untuk acara-acara besar dan diwajibkannya memakai masker.

Secara spesifik Rencana C belum ditetapkan.

Tetapi Manchester Evening News melaporkan Rencana C meliputi diharuskannya masyarakat untuk check-in dengan aplikasi NHS Covid saat masuk pub dan restoran.

Masker juga menjadi hal wajib dipakai di semua tempat di dalam ruangan dan paspor vaksin dapat diperpanjang.

Tinjauan terhadap langkah-langkah Rencana B diharapkan dilakukan pada 5 Januari.

Sebelumnya, PM mengatakan langkah-langkah "proporsional dan bertanggung jawab" dapat ditinjau sebelum itu jika dianggap perlu.

Oleh karena itu, pembatasan yang lebih ketat bisa saja diterapkan pada awal Januari tergantung pada bagaimana situasi Omicron selama musim liburan mendatang.

Dilansir Daily Star, varian Omicron diprediksi menjadi varian paling dominan dari Covid-19.

Analisis awal menunjukkan kemungkinan ada beberapa tingkat pengurangan efektivitas vaksin terhadap varian ini.

Para menteri di Inggris telah menghadapi kritik karena memperkenalkan langkah-langkah yang lebih keras.

Muncul kemarahan di Partai Konservatif yang dipicu oleh kecurigaan bahwa pembatasan baru dilakukan sebagai upaya untuk mengalihkan isu dari skandal perdana menteri.

Baca juga: Ingatkan Omicron Jadi Ancaman Baru, IMF Akan Berikan Fasilitas SDR ke Negara Anggota G20

Baca juga: Singapura Deteksi Kasus Lokal Pertama Varian Omicron, Pasien Tak Punya Riwayat Bepergian

Johnson diduga menggelar pesta staf di Downing Street selama lockdown Desember lalu.

Meskipun begitu, Profesor John Edmunds, anggota Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat (Sage), mengatakan pembatasan adalah "kejahatan yang diperlukan."

Dia mengatakan kepada pengarahan Royal Society of Medicine:

"Saya pikir itu adalah kejahatan yang diperlukan. Pembatasan akan sangat merusak sebagian ekonomi, sektor perhotelan, sektor ritel khususnya – mereka akan terpengaruh."

"Sayangnya, kita harus melakukannya."

"Tingkat penyebaran virus ini berlipat ganda setiap dua atau tiga hari."

(Tribunnews.com/Yurika/Tiara Shelavie)

Berita terkait Virus Corona

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini