Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti
TRIBUNNEWS.COM, TAIPEI - Kementerian Pertahanan Taiwan memamerkan rangkaian drone tempur buatan militernya, usai China meningkatkan ancaman perang dengan melangsungkan aktivitas militer di dekat yuridiksi kedaulatan Taipei.
Melansir dari CNN International drone tersebut dibuat {emerintah Taiwan dengan menggandeng sejumlah perusahaan perakit pesawat tanpa awak.
Termasuk perusahaan National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST) yang baru – baru ini merilis drone pengintai Albatross II, dan drone tempur yang dioperasikan dengan satelit sistem pemosisian global.
Dengan kerjasama tersebut nantinya Pemerintah Taiwan dapat mewujudkan ambisinya untuk meluncurkan 3.000 drone baru pada tahun 2024.
Untuk mempercepat perakitan drone, pemerintah Taiwan bahkan ikut meningkatkan pengeluaran pertahanan tahunannya sebesar 13,9 persen.
"Saya berharap pasukan nasional kita dapat membiasakan diri dengan senjata perang asimetris ini dan menggunakannya dengan berani," katanya Chi Li-Pin, direktur Divisi Riset Sistem Penerbangan untuk NCSIST, saat diwawancarai di pusat kota Taichung.
Dipilihnya senjata drone tempur bukan tanpa alasan, pemerintah Taiwan mengklaim pesawat tanpa awak ini dapat memberikan urgensi pada militer Taiwan untuk meningkatkan pertahanan demi melindungi 23,5 juta penduduk dari serangan China.
Baca juga: Menlu China Heran, AS Persenjatai Taiwan dan Ukraina tapi Larang China Bantu Rusia
Terbukti sejak Ukraina di invasi Rusia, Kiev sukses memukul mundur pasukan Moskow hanya dengan menggunakan kecanggihan drone drone Switchblade 300 besutan AS yang dapat melacak gambar lewat sistem satelit GPS.
Baca juga: Menhan Taiwan Peringatkan Rakyatnya, Militer China Bisa Menginvasi Tiba-tiba
"Karena ringan dan portabel, ini seperti granat besar yang bisa terbang. senjata ini efektif dalam menyerang target-target di dekat pantai kami dengan jarak terbang maksimum mencapai 10 kilometer,” jelas, Chi Li-pin.