Pemuda memegang peran yang krusial dalam Pemilu 2024. Namun, pengamat menilai mereka masih dipandang sebagai “token” oleh politisi, meskipun banyak pemuda mulai berani menyuarakan aspirasi mereka lewat media sosial.
Etta, 23, seorang Gen Z yang tinggal di Jakarta, tampak gusar saat mengetik nama masing-masing kandidat presiden ke dalam kolom situs pencarian.
Dengan musim pemilu semakin dekat, ia merasa terdorong untuk menggali informasi sejumlah sosok yang digadang-gadang akan memimpin Indonesia kelak.
Namun, setelah beberapa jam membaca biodata, gagasan, dan rekam jejak masing-masing kandidat, harapannya perlahan sirna. Etta merasa tak ada kandidat presiden yang peduli dengan isu yang menjadi perhatiannya.
“Karena saya sendiri juga termasuk dalam beberapa kelompok minoritas, dan kami diajarkan sejak usia dini bahwa sistem politik sebenarnya tidak mendukung kami,” ungkap Etta, kepada wartawan BBC News Indonesia Trisha Husada, September lalu.
Etta adalah perempuan Tionghoa yang berasal dari keluarga Kristen. Ia juga merupakan bagian dari komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).
Setiap tahun Pemilu, ia merasa ada pola yang terus berulang: identitasnya sebagai kelompok minoritas dimanfaatkan oleh para calon presiden (capres).
“Isu LGBT sering digunakan sebagai alat politik identitas untuk menjatuhkan kandidat lain. Jadi bisa dibilang, agak susah bagi saya untuk nge-stan [dukung] mereka,” katanya.
Etta mengatakan kebanyakan dari teman-temanyang seumuran dengannya juga berharap suara mereka didengar dan isu-isu yang mereka perjuangkan menjadi prioritas para calon pemimpin negara.
“Pada akhirnya yang bakal jadi usia produktif di negara ini orang-orang muda. Dan walaupun enggak banyak kelompok minoritas, tapi mereka juga bagian dari negara ini. Mereka berhak untuk didengar dan diperhatikan isu-isunya,” ujar Etta.
Aisah Putri Budiarti, peneliti dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan partai politik cenderung masih memandang suara pemilih muda sebagai sesuatu yang harus diraih, dan bukan sebagai kelompok yang memiliki kepentingan.
“Tidak ada yang membahas mereka sebagai kelompok yang punya kebutuhan pada program-program tertentu,” ujar peneliti yang akrab disapa Puput tersebut.
Jelang tahun politik, kata Puput, golongan muda memiliki pengaruh yang sangat signifikan. Sebab, mereka menjadi kelompok yang mencakup lebih dari 55%, atau sekitar 114 juta, dari total suara Pemilu 2024.
“Anak muda menurut saya sadar bahwa mereka sudah menjadi pemilih yang menjadi fokus Pilpres nanti. Jadi mereka harus memanfaatkan momen itu,” katanya.
Baca tanpa iklan