TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat menjanjikan tetap mendukung Israel dengan memberikan perlindungan besi atau "ironclad" di tengah ancaman Iran membalas serangan yang meratakan gedung konsulat mereka di Damaskus dan menewaskan dua jenderalnya.
"Seperti yang saya katakan pada Perdana Menteri (Israel) Netanyahu, kami berkomitmen pada keamanan Israel terhadap ancaman ini dari Iran dan proksinya Ironclad," ujar Biden pada Rabu (10/4/2024) dikutip dari Al Jazeera.
"Izinkan saya mengatakannya sekali lagi, ironclad. Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk melindungi keamanan Israel," sambungnya.
Adapun pernyataan ini dilontarkan setelah dia mengecam Netanah atas korban jiwa dalam kampanye Israel melawan Hamas, terutama setelah serangan drone pekan lalu yang menewaskan tujuh pekerja dari badan amal berbasis di AS yang sedang berada di Gaza.
Biden menyebut Netanyahu melakukan kesalahan, dia juga meminta Israel dan Hamas gencatan senjata agar mempermudah akses bantuan untuk masyarakat Gaza selama beberapa bulan.
Para pejabat tinggi AS sudah menyuarakan kekhawatiran atas potensi serangan balik Iran setelah Israel pada 1 April menghancurkan gedung konsulat mereka hingga menewaskan tujuh anggota elit Garda Revolusi Iran termasuk dua jenderal.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam pidatonya pada Rabu (10/4) memperingatkan bahwa 'rezim jahat' Israel 'harus dihukum dan akan dihukum' atas serangan itu.
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, merespons cepat pernyataan itu dalam ungghannya di X menggunakan bahasa Persia, "Jika Iran menyerang dari wilayahnya, Israel akan merespons dan menyerang Iran."
Iran merupakan negara pendukung Hamas, kelompok bersenjata penguasa di Jalur Gaza yang pada 7 Oktober 2023 meluncurkan serangan paling mematikan terhadap Israel. Serangan ini memicu operasi militer Israel selama enam bulan tanpa henti di Jalur Gaza dan membuat rakyat Palestina menderita.
Baca juga: Pesan Idul Fitri Pemimpin Tertinggi Iran: Israel Harus Dihukum Atas Kejahatan Perang Mereka
Sikap AS sejak perang Israel dan Hamas berkecamuk telah berusaha mencegahnya menyebar, termasuk ke Lebanon, lokasi Iran mendukung gerakan militan Syiah Hizbullah.
AS bungkam terhadap serangan Israel pada 1 April dengan mengatakan belum menentukan apakah Israel menyerang fasilitas domestik, yang akan melanggar perjanjian internasional mengenai kedutaan dan konsulat yang tak bisa diganggu gugat.
Israel Pertimbangkan Bebaskan Ratusan Sandera
Di sisi lain, Israel mempertimbangkan pembebasan bersyarat 900 tahanan Palestina dengan imbalan 40 sandera Israel.
Tel Aviv sedang mempertimbangkan usulan Direktur CIA AS untuk membebaskan 900 tahanan Palestina dengan imbalan 40 sandera Israel yang ditawan oleh Hamas, dengan syarat mereka dideportasi ke negara lain dan tidak diizinkan kembali ke rumah mereka di Jalur Gaza, media lokal melaporkan.
“Usulan dari Direktur CIA, William Burns, akan membuat Hamas membebaskan 40 sandera, dan Israel akan membebaskan 900 tahanan keamanan Palestina, 100 di antaranya menjalani hukuman seumur hidup,” kata pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya kepada situs berita Walla pada hari Selasa, Anadolu Agency melaporkan.
Baca tanpa iklan