Jika pola makan sebagian besar populasi Rapa Nui didasarkan pada umbi-umbian, maka pulau ini kemungkinan hanya mampu menghidupi sekitar 2.000 orang.
Dari studi isotop terhadap tulang dan gigi penduduk asli, disimpulkan bahwa bangsa Rapanui mendapatkan 35 hingga 45 persen makanan dari laut dan sebagian kecil dari tanaman lain yang kurang bergizi seperti pisang, talas atau tebu.
Menurut para peneliti, kecerdikan penduduk asli beradaptasi dengan kondisi kehidupan yang sulit mengindikasikan jumlah populasi sebesar 3.000 orang.
Jumlahnya kira-kira sama dengan yang ditemukan orang Eropa ketika tiba di pulau itu pada Hari Paskah tahun 1722.
Artinya, tidak ada bukti bagi teori ekosida yang mengasumsikan kepunahan massal akibat kerusakan lingkungan, kata Carl Lipo, arkeolog di Binghamton University dan salah satu penulis penelitian tersebut.
rzn/as
Baca tanpa iklan