Menurut para peneliti, keberhasilan bangsa Rapanui membangun peradaban dimungkinkan oleh konsep "kebun batu” di mana penduduk pulau menanam umbi-umbian sebagai makanan pokok.
Teknik ini menempatkan tumpukan batu untuk melindungi tanaman dari semprotan garam dan angin.
Bebatuan dan karang menjadi tembok alami yang menghalangi angin kering dan menciptakan aliran udara yang menjaga suhu udara dan melindungi tanaman dari panas atau dingin yang berlebihan.
Kebun batu juga diketahui digunakan penduduk asli Selandia Baru, Kepulauan Canary dan di barat daya Amerika Serikat.
Namun begitu, teknik ini menuntut beban kerja yang sangat tinggi dengan hasil panen yang tergolong rendah.
Bantahan atas teori ekosida
Saat ini, Pulau Paskah berpenduduk hampir 8.000 jiwa, ditambah sekitar 100.000 wisatawan yang datang setiap tahun. Kendati sebagian besar bahan pangan harus diimpor, warga kembali berusaha menanam ubi jalar di kebun batu tua.
Tren ini muncul pada tahun 2020 silam di tengah pandemi Covid-19.
Menurut para peneliti, luas kebun batu dulunya hanya cukup untuk memberi makan beberapa ribu orang. Hal ini menunjukkan "bahwa populasi Pulau Paskah tidak pernah sebesar perkiraan sebelumnya,” kata penulis utama studi ini Dylan Davis, seorang arkeolog di Columbia Climate School.
Hal ini tegas membantah teori ekosida yang sebelumnya dijadikan pegangan.
"Dengan mengubah alam demi keuntungan mereka, masyarakat Rapanui menjadi sangat tangguh meskipun sumber dayanya terbatas,” kata Davis.
Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti telah mencoba memperkirakan populasi berdasarkan kebun batu yang ada dan kapasitas produksi pangan.
Dalam studi tahun 2017, sekitar 7.700 hektar lahan diklasifikasikan sebagai lahan yang cocok untuk menanam bahan pangan, yang mewakili 19 persen dari luas pulau tersebut.
Atas dasar itu, peneliti memperkirakan daya tampung sekitar 17.500 hingga 25.000 penduduk.
Pengukuran ulang lewat AI
Dalam studinya, peneliti menggunakan kecerdasan buatan untuk mengonfigurasi citra satelit, sehingga tidak hanya mengidentifikasi bebatuan, tetapi juga tempat-tempat dengan kelembapan tanah dan kandungan nitrogen tinggi, sebagai area berpotensi pertanian.
Berdasarkan evaluasi mereka, taman batu konon hanya menempati lahan sekitar 188 hektare, alias kurang dari setengah persen luas pulau.
Baca tanpa iklan