TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Myanmar mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari usai negaranya diguncang gempa berkekuatan 7,7 magnitudo.
Pengumuman itu disampaikan pemerintah Myanmar pada Senin (31/3/2015) waktu setempat.
"Myanmar mengumumkan tujuh hari berkabung nasional atas gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala richter yang melanda Myanmar bagian tengah pada hari Jumat," bunyi keterangan media pemerintah Myanmar, MRTV, dilansir Anadolu Agency.
Pasca pengumuman dirilis, bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang selama masa berkabung untuk menghormati para korban tewas.
Untuk mempercepat proses evakuasi, Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Pembicaraan itu digelar guna membahas dampak bencana dan upaya penyelamatan serta bantuan.
Sementara itu sejumlah negara-negara seperti Rusia, India, China, Thailand, UEA, PBB, dan dilaporkan telah mengirim tim khusus untuk pencarian dan penyelamatan.
Serta memberikan bantuan kemanusiaan di tengah melonjaknya korban jiwa akibat gempa mematikan Myanmar
Korban Tewas Capai 2.000 Jiwa
Menurut laporan terbaru dari Dewan Administrasi Negara Myanmar saat ini jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang melanda Myanmar pada Jumat (28/3/2025) terus bertambah.
Setidaknya 2.056 orang tewas dan lebih dari 3.900 orang terluka, dan hampir 300 orang lainnya masih hilang.
"Lebih dari 2.000 orang kini dipastikan tewas di Myanmar setelah gempa bumi terbesar melanda," bunyi keterangan pemerintah Myanmar.
Baca juga: Update Gempa Myanmar-Thailand: Korban Tewas Tembus 2.000 Orang, 3.900 Terluka, 270 Lainnya Hilang
Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memproyeksi jumlah korban tewas Myanmar dapat melampaui 10.000 orang, lantaran saat ini operasi pencarian dan penyelamatan korban berjalan tidak maksimal.
Pemakaman ratusan korban diperkirakan akan dilaksanakan pada hari ini Selasa (1/4/2025).
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah telah meluncurkan permohonan darurat pada Minggu untuk mengumpulkan lebih dari 100 juta dollar (setara Rp 1,6 triliun) guna membantu para korban.