News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.148: Soal Warganya Turut Berperang, China Lontarkan Bantahan

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TENTARA CHINA - Tangkapan layar Telegram Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperlihatkan momen di mana Dinas Kemanan Ukraina tengah menginterogasi salah seorang warga negara China yang diduga ikut berperang di pasukan Rusia pada Selasa (8/4/2025). Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menyebut isu tersebut sebagai bentuk manipulasi dan sensasi.

Helikopter tersebut disebut-sebut sebagai milik Kementerian Pertahanan Rusia.

Namun, GUR tidak secara langsung mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.

TASS menyebut bahwa pengadilan menilai tindakan mereka sebagai sabotase yang membahayakan keamanan negara.

Belum ada komentar resmi dari pihak Ukraina terkait vonis ini.

Negosiasi Keamanan Laut Hitam: Ukraina, NATO, dan Turki Bahas Keberadaan Militer Asing

Baca juga: Giliran Kursk Membara, Ratusan Drone Ukraina Serbu Rusia, 175 Pasukan Kiev Rontok dalam Sehari

Negosiasi di Ankara antara Ukraina, Inggris, Prancis, dan Turki tengah membahas keberadaan militer asing untuk memastikan keamanan Laut Hitam.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa Turki memiliki peran penting dalam jaminan keamanan kawasan ini, Suspilne melaporkan.

Zelensky menekankan bahwa keamanan Laut Hitam memerlukan kehadiran militer, yang sangat penting bagi kota-kota seperti Odessa dan Mykolaiv.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, melakukan kunjungan ke Ukraina pada 15 April.

Sebelumnya, Presiden Turki Erdogan juga menyatakan komitmennya untuk mencegah Laut Hitam menjadi zona perang.

AS mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap Rusia sebagai imbalan atas gencatan senjata di Laut Hitam.

Namun, Zelensky menanggapi bahwa Putin menolak usulan gencatan senjata sementara yang disetujui Ukraina.

Dia menegaskan bahwa pelanggaran oleh Rusia akan berujung pada sanksi lebih lanjut.

(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini