News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Amerika vs China

AS Dituding Provokasi, China Peringatkan Washington Tak Main Api soal Taiwan dan Laut China Selatan

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Pravitri Retno W
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PETE HEGSETH - Tangkapan layar X (sebelumnya Twitter) Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang diambil pada Selasa (6/5/2025) memperlihatkan video Hegseth pada Senin (5/5/2025) yang memerintahkan pengurangan setidaknya 20 persen dalam jumlah jenderal dan laksamana bintang empat di militer AS. Beijing keluarkan peringatan setelah Menteri Pertahanan AS sebut Tiongkok ancaman nyata Indo-Pasifik.

Penempatan senjata ofensif Amerika di Laut China Selatan diklaim memperburuk ketegangan dengan negara-negara tetangga, seperti Filipina.

China dan Filipina memang tengah bersengketa soal kedaulatan beberapa pulau dan atol di Laut China Selatan, dan sering terjadi benturan antara penjaga pantai kedua negara.

China membantah klaim AS soal ancaman terhadap kebebasan navigasi di wilayah itu.

Beijing menegaskan kalau mereka berkomitmen pada dialog damai serta menjaga hak teritorialnya sesuai hukum internasional.

"AS merupakan faktor terbesar yang mengganggu perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan," bunyi pernyataan resmi dari pemerintah China.

Ketegangan ini semakin memanas di tengah perang dagang yang berlangsung antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menuduh China melanggar kesepakatan gencatan senjata terkait tarif.

Di sisi lain, China mengumumkan telah menggelar patroli tempur di sekitar Scarborough Shoal, salah satu wilayah sengketa di Laut China Selatan yang juga diklaim oleh Filipina.

Australia Pasang Badan

Sementara itu, Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, membela pernyataan Hegseth dan menyoroti peningkatan besar-besaran kekuatan militer China sejak Perang Dunia II.

"Yang kami lihat adalah lonjakan kemampuan militer terbesar yang pernah ada sejak Perang Dunia II," kata Marles pada Minggu.

Menariknya, untuk pertama kalinya sejak 2019, China tidak mengirimkan Menteri Pertahanannya ke forum Shangri-La Dialogue, melainkan mengutus delegasi tingkat lebih rendah.

Forum ini merupakan pertemuan keamanan terkemuka di Asia yang membahas isu-isu regional dan global.

Sejarah Taiwan berakar pada perpecahan dengan China pada 1949 setelah perang saudara.

Meski demikian, Beijing tetap menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya yang sakral dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekerasan untuk menyatukan kembali.

Pemerintah Taiwan menolak klaim tersebut dan menegaskan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri.

(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini