Pertama, Netanyahu secara sepihak ingin menyabotase agenda Trump dan negosiasi nuklir Teheran-Washington, yang hasilnya mungkin akan membahayakan Israel.
Kedua, Netanyahu menjalankan agenda Trump menggunakan cara paksa agar Iran menyerah dan tunduk pada proposal Washington di meja perundingan.
Opsi kedua tampaknya lebih masuk akal, namun dengan pertimbangan taktis strategis Trump untuk tidak sampai mendongkel rezim Khamenei.
Netanyahu dan Trump bersekongkol dengan pukulan pamungkas diputuskan Trump untuk menjatuhkan bom penghancur bunker lewat pembom strategis B-2 Spirit pada 22 Juni 2025.
Sesudah itu, perang berhenti dengan deklarasi gencatan senjata yang diumumkan Donald Trump dari Washington.
Menariknya, Trump lantas mempersilakan Teheran melanjutkan ekspor minyaknya, dan Tiongkok boleh mengapalkan impor minyaknya dari Iran.
Ini tentu saja hal sangat menarik dari pribadi Donald Trump yang impulsif dan serba tak terduga gaya politiknya.
Hal lain, Trump sepertinya tetap ingin mempertahankan keseimbangan di Timur Tengah, dengan membuat Israel tidak memborong seluruh kemenangan.
Secara tiba-tiba menghentikan perang Israel-Iran, bagi Trump adalah usahanya mencegah dunia Arab semakin terpinggirkan.
Ini yang dibaca Mohamed Sweidan, peneliti studi strategis di situs The Cradle. Sweidan menulis di berbagai platform media, yang kajiannya fokus urusan Rusia dan politik Turki.
Menurutnya, jika Tel Aviv muncul dari konfrontasi ini sebagai pihak yang dominan, dunia Arab kehilangan pengaruh terakhirnya yang berarti.
Kemenangan Israel yang menentukan atas Iran dan sekutu-sekutunya di Gaza, Lebanon, Irak, dan Yaman akan menghilangkan penghalang terakhir bagi perluasan wilayah Israel Raya.
Ini doktrin kuno yang dipercaya kelompok ultranasionalis, Israel Raya mencakup semua wilayah Palestina, Lebanon, sebagian Suriah, sebagian Yordania, sebagian Irak dan Iran, dan sebagian Mesir serta Arab Saudi.
Perjuangan Palestina – yang selama ini menjadi kartu tekanan strategis bagi pemerintah Arab – akan dibongkar dalam semalam.
Para penguasa Teluk, yang dulunya terlindungi oleh persaingan regional, akan mendapati diri mereka dalam tekanan kuat Israel yang semakin berani.
Baca tanpa iklan