Selama bertahun-tahun, India merasa bangga karena mampu melakukan hal yang sulit dijalankan banyak negara besar lain. Membeli minyak dari Iran, membangun kerja sama pertahanan dengan Israel, mempererat hubungan dengan Amerika Serikat (AS), dan memperluas relasi ekonomi dengan negara kerajaan Teluk, sambil tetap berupaya tidak terseret dalam kubu regional maupun aliansi formal negara-negara tersebut.
Namun, perang Iran menguji kemampuan diplomatik India. Perdana Menteri India Narendra Modi nampaknya mulai merasakan tekanan tersebut. Modi dijadwalkan memulai lawatan diplomatik tujuh hari ke Uni Emirat Arab dan empat negara Eropa. Perjalanan ini akan dimulai pada Jumat 15 Mei.
Bagi New Delhi, konflik di Iran bukan sekadar krisis energi yang terjadi di kawasan lain. Konflik ini merupakan tantangan langsung terhadap asumsi dasar di balik kebijakan luar negeri India di Timur Tengah, yaitu keyakinan bahwa India dapat mempertahankan otonomi strategisnya sendiri, sambil menjalin hubungan dengan setiap kekuatan besar di kawasan tersebut, terlepas dari persaingan di antara mereka.
Upaya India jaga keseimbangan kini 'makin sulit'
Amitabh Mattoo, Dekan Sekolah Studi Internasional di Universitas Jawaharlal Nehru, Delhi, mengatakan bahwa India telah menghabiskan puluhan tahun demi membangun relasi harmonis dengan negara-negara yang saling bertikai di Timur Tengah, dengan memegang teguh prinsip “realisme yang pragmatis”.
“Namun, konflik Iran membuat peta geopolitik jadi jauh lebih keras. Otonomi strategis bekerja paling efektif dalam tatanan dunia multipolar yang cair,” kata Amitabh kepada DW.
“Situasinya jadi lebih sulit ketika kubu-kubu yang bersaing secara serentak menuntut loyalitas politik, kepatuhan terhadap sanksi, dan keberpihakan keamanan,” lanjut Amitabh.
Namun, Mattoo tahu persis apa yang bakal pertama kali dikorbankan ketika tekanan mencapai puncaknya.
“Jika keadaan memaksa, insting pertama India akan selalu melindungi stabilitas ekonomi dan keamanan energi. Tak ada pemerintahan di New Delhi yang sanggup menanggung guncangan harga minyak yang berkepanjangan, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, atau lonjakan inflasi domestik,” ujarnya.
Analisis Amitabh ini bukan berarti menyiratkan hubungan New Delhi dengan Washington dan Tel Aviv retak.
“Amerika Serikat tetap tak tergantikan bagi masa depan strategis India yang lebih besar: teknologi, pertahanan, keseimbangan Indo-Pasifik, dan akses terhadap modal global. Israel masih menjadi mitra penting di bidang pertahanan dan intelijen. Kawasan Teluk berperan sentral bagi energi, remitansi, dan stabilitas diaspora. Sementara Iran penting dari sisi geografis dan akses daratan,” ujar Amitab, yang juga menganggap krisis ini mengungkap sesuatu yang lebih besar daripada sekadar dilema kebijakan.
“India bukan lagi penonton di Asia Barat. Ketergantungannya pada kawasan itu membuat setiap eskalasi kini langsung menguji ambisi India sebagai kekuatan besar. Otonomi strategis bukan lagi sekadar slogan. Ini adalah ujian ketahanan,” lanjutnya.
Di mata Amitabh, paradoks tersebut justru lahir dari keberhasilan India.
“New Delhi menginginkan otonomi strategis. Namun, semakin dalam integrasi globalnya, semakin sulit pula bagi India untuk tetap tidak berpihak secara geopolitik ketika konflik besar pecah. Netralitas di Asia Barat yang terpolarisasi kini bukan lagi sebuah posisi, melainkan kemewahan,” ujarnya.
Prinsip pendekatan multiblok
Tidak semua pihak sepakat bahwa strategi diplomatik multiblok berada di ambang keruntuhan. T.S. Tirumurti, pensiunan diplomat sekaligus perwakilan pertama India untuk Otoritas Palestina, justru menilai perang Iran menjadi alasan bagi New Delhi untuk tetap mempertahankan kebijakan diplomatik yang sudah berjalan.
“Sejauh ini, kebijakan multiblok kami, termasuk di Asia Barat, telah memberi manfaat besar seperti memperluas ruang pengambilan keputusan independen. Bila kami menyimpang dari pendekatan multiblok dan mencondongkan diri ke pihak tertentu, ruang strategis kami akan menyempit,” kata Tirumurti kepada DW.
Baca tanpa iklan