Serra Verde tetap menjadi pengecualian dalam sektor mineral tanah jarang Brasil. Tidak seperti Cina, Brasil sejauh ini sebagian besar masih membatasi diri pada ekspor bahan mentah dibandingkan memproses dan memurnikannya di dalam negeri.
Menurut International Energy Agency (IEA), Cina kini menguasai lebih dari 90% kapasitas pemurnian mineral tanah jarang global. Cina juga mendominasi produksi magnet permanen dengan pangsa pasar sekitar 95%.
Industri elektronik merasakan dampak ketergantungan ini tahun lalu. Setelah Cina memberlakukan kontrol ekspor mineral tanah jarang selama perselisihan tarif dengan Presiden AS Donald Trump, terjadilah kekurangan pasokan.
Brasil, bersama negara kaya sumber daya lain seperti India, Vietnam, Swedia, dan Norwegia, kini ingin membangun rantai nilai mineral tanah jarang mereka sendiri. Namun CEO Meteoric Andrew Tunks mengatakan hal itu membutuhkan waktu.
“Brasil dapat menjadi kompetitif relatif cepat dalam penambangan,” kata Tunks. “Tetapi untuk manufaktur, masih akan memerlukan waktu.”
Ekstraksi deposit di Brasil lebih mudah
Dari perspektif geologi, Brasil memiliki keunggulan dibanding negara lain dengan cadangan mineral tanah jarang besar. Menurut Brazilian Geological Society (SBG), sekitar 73?posit negara tersebut terdiri dari formasi lempung ionik.
“Ini adalah deposit di mana alam sudah melakukan sebagian pekerjaan pemrosesan,” jelas Francisco Valdir Silveira, kepala SBG. “Batuan granit asalnya sudah mengalami perubahan atau pelapukan seiring waktu. Itu membuat deposit lempung ionik lebih mudah ditambang.”
Ahli geologi sekaligus pengusaha tambang Tunks melihat keunggulan tambahan dalam ekstraksi dan pemrosesan mineral tanah jarang di Brasil.
“Pemisahan membutuhkan banyak listrik dan air. Tambang kami di Brasil sepenuhnya menggunakan energi terbarukan, dan listriknya murah,” kata Tunks. “Anda tidak punya kondisi seperti itu di Australia. Di sana sangat kering dan listrik sangat mahal.”
Tunks berharap “demam emas” Brasil akan mengambil jalur yang berbeda dibanding yang terjadi di negara asalnya.
“Di Australia, kami mengekstraksi bahan mentah dalam jumlah besar dan langsung mengirimkannya ke Cina,” katanya. “Kami tidak menciptakan nilai tambah apa pun dari itu. Saya berharap Brasil bisa melakukan lebih baik.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari Bahasa Inggris oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid
Baca tanpa iklan