Menurut dia, meski bergantung secara militer kepada Iran, Houthi memiliki tujuan strategis dan ambisi kekuatan regional mereka sendiri. Karena itu, bahkan gencatan senjata yang stabil antara Iran dan Israel belum tentu menghentikan serangan mereka.
Kekuatan utama Houthi, kata Leonhardt, bukan terletak pada perang konvensional, melainkan kemampuan mereka menimbulkan kerugian ekonomi besar melalui penggunaan drone, rudal, dan serangan terhadap jalur perdagangan.
Posisi mereka yang strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab memberi bobot penting dalam kalkulasi keamanan kawasan.
"Perluasan aktivitas maritim Houthi dapat semakin mengganggu stabilitas pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi," ujarnya.
Risiko bagi Houthi
Namun, serangan yang lebih besar juga membawa risiko besar bagi kelompok itu sendiri.
Jurnalis Arab Saudi Abdulrahman Al-Rashed menulis di platform X bahwa Iran kini telah menggerakkan "lengan ketiganya". Kekuatan tersebut berpotensi mengancam pelayaran di Bab al-Mandab.
Ancaman itu memang dapat meningkatkan tekanan terhadap lawan-lawan Iran, tetapi pada saat yang sama memperbesar risiko bahwa kemampuan militer Houthi yang tersisa akan dihancurkan melalui serangan balasan.
Pandangan serupa disampaikan ilmuwan politik Yaman Abdulkarim Ghanem.
Kepada stasiun televisi Yemen Shabab, dia mengatakan Houthi memang memiliki kemampuan untuk memberlakukan blokade parsial di selat tersebut. Namun penutupan total akan menjadi "bunuh diri strategis demi kepentingan Teheran".
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
Baca tanpa iklan