Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo, khususnya virus Bundibugyo, telah menyebabkan 91 kematian di negara tersebut.
Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis pada 6 Juni menunjukkan telah ada 515 kasus terkonfirmasi di negara itu dan 19 kasus di negara tetangga Uganda, yang juga telah mencatat setidaknya dua kasus kematian.
Isabel Brosius, seorang spesialis penyakit menular dari Institute of Tropical Medicine di Antwerp, Belgia, saat ini sedang berada di Kongo. Ia mengatakan kepada DW bahwa wabah ini menghancurkan negara yang sebelumnya telah dilanda konflik di perbatasan timurnya serta menghadapi berbagai ancaman kesehatan masyarakat signifikan lainnya.
"Ebola bisa menjadi penyakit yang sangat menakutkan. Tentu saja, ketika hal ini terjadi pada populasi yang kurang memiliki literasi kesehatan yang memadai, ini sangat meresahkan. Orang-orang mulai bertanya-tanya mengapa ini terjadi atau apa penyebabnya. Kemudian, jika ada ketidakpercayaan yang mengakar terhadap pemerintah atau pihak lain, ditambah adanya berita hoaks atau pesan palsu, hal ini hanya akan memperparah rasa tidak aman secara umum," katanya.
Apakah Ebola sudah memengaruhi Piala Dunia?
Kongo lolos kualifikasi Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 52 tahun pada bulan April lalu. Namun, persiapan mereka untuk laga pembuka melawan Portugal pada 17 Juni mendatang terganggu oleh wabah Ebola.
Tuan rumah Piala Dunia, Amerika Serikat yang akan menjadi basis tempat tinggal tim sepak bola Kongo, mewajibkan seluruh warga negara non-AS yang pernah berada di Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan untuk tinggal selama 21 hari di luar negara-negara tersebut dan bebas dari gejala sebelum mereka diizinkan masuk ke AS.
Kebijakan ini berdampak langsung bagi Kongo. Lokasi pemusatan latihan tim yang direncanakan di Kota Kinshasa, terpaksa dipindahkan ke Belgia. Padahal, wabah Ebola saat ini terbatas di Provinsi Ituri yang terletak di bagian timur laut Kongo, yang jaraknya ribuan kilometer dari ibu kota negara itu.
Di Belgia, tim sepak bola Kongo berlatih dalam "gelembung" seperti saat pandemi COVID-19. Seluruh anggota skuad Kongo bermain untuk klub di luar negara mereka dan berbagai laporan menunjukkan tidak ada satu pun pemain yang mengunjungi Kongo baru-baru ini.
Laga persahabatan praturnamen melawan Chile yang awalnya dijadwalkan berlangsung di Spanyol, kini akan dimainkan secara tertutup di kota Orleans, Prancis pada hari Selasa (09/06). Pemindahan lokasi pertandingan ini dilakukan setelah otoritas lokal Spanyol membatalkan pertandingan yang telah dijadwalkan sebelumnya dengan alasan kesehatan masyarakat. Mengingat banyak tim yang sudah berada di Amerika Utara, kedatangan Kongo di Houston akan memberi mereka waktu yang relatif singkat untuk beradaptasi dengan cuaca.
"Satu-satunya hal yang bisa saya katakan adalah kami sudah terbiasa beradaptasi, dan apa pun yang terjadi, kami tidak akan kesulitan menyesuaikan diri dengan semua situasi ini," ujar pelatih Kongo, Sebastien Desabre.
Apakah ada risiko penyebaran Ebola selama Piala Dunia?
Menurut Brosius, risikonya hampir tidak ada. Ia menekankan bahwa Ebola "tidak ditularkan melalui droplet dan membutuhkan kontak erat dengan orang yang sakit atau meninggal, maupun dengan lingkungan yang terkontaminasi." Hal ini berarti penyebaran secara internasional atau melalui perjalanan sangat kecil kemungkinannya terjadi.
"Sama seperti yang kita lihat pada tahun 2014-2016 saat wabah Ebola terbesar yang pernah kita saksikan, kemampuan penyebaran internasional dan pembentukan penularan lokal di negara lain melalui perjalanan udara, dan lain-lain..., sebenarnya cukup terbatas," jelasnya.
"Risiko bagi para suporter yang datang menonton pertandingan di salah satu dari tiga negara tuan rumah, atau para pemain terpapar virus ini, menurut saya, hampir mendekati nol," tambahnya.
Sikap tuan rumah Piala Dunia terkait Ebola
Negara yang menjadi tuan rumah bersama, yaitu AS, Kanada, dan Meksiko, baru-baru ini merilis pernyataan gabungan mengenai masalah ini. Pernyataan itu menekankan "langkah-langkah kesehatan masyarakat yang seragam terkait perjalanan bagi individu yang datang dari wilayah Afrika yang paling berisiko terpapar virus Ebola," tanpa merinci terlalu jauh.
Di sisi lain, ketiga negara tersebut punya kebijakan yang berbeda soal ini. AS bersikeras pada aturan karantina 21 hari, Kanada untuk sementara waktu telah melarang penduduk dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan untuk memasuki negaranya selama 90 hari. Sementara itu, Meksiko telah memberlakukan langkah-langkah skrining Ebola yang lebih ketat di bandara dan mewajibkan masa karantina 21 hari.
Baca tanpa iklan