News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Proyek Jet Tempur Bersama Kandas, Eropa Hadapi Dilema Pertahanan

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Proyek Jet Tempur Bersama Kandas, Eropa Hadapi Dilema Pertahanan

Siapa pun yang ingin dianggap serius dalam industri pertahanan Eropa akan hadir di Eurosatory, pameran dagang pertahanan terbesar di Prancis yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Pekan ini, industri tersebut kembali memamerkan kemajuan terbarunya di kawasan pameran yang luas di Villepinte, dekat Paris. Lebih dari 2.000 peserta pameran berbaur dengan pejabat militer, politisi, dan pelaku industri.

Dengan buku pesanan yang penuh, suasana seharusnya lebih optimis. Pemerintah-pemerintah Eropa ingin mengurangi ketergantungan pertahanan mereka pada Amerika Serikat dan menginvestasikan ratusan miliar euro untuk mencapai tujuan tersebut.

Namun, optimisme yang ada kini dibayangi kekecewaan. Proyek pertahanan Eropa paling ambisius yang ditujukan untuk mencapai otonomi strategis yang lebih besar praktis runtuh hanya beberapa hari lalu: Jerman dan Prancis memberikan apa yang tampaknya menjadi pukulan mematikan terhadap program pesawat tempur generasi keenam mereka. Komponen utama Future Combat Air System (FCAS) pada akhirnya tidak akan dibangun sebagai proyek bersama.

Apakah kegagalan FCAS menjadi titik balik yang penting?

Menteri Pertahanan Prancis, Catherine Vautrin menghindari topik tersebut dalam pidato pembukaannya pada Senin (15/6) . Meski demikian, semakin banyak tanda bahwa Paris dan Berlin tidak hanya menemui jalan buntu dalam program pesawat tempur itu, tetapi juga dalam proyek tank tempur bersama.

Presiden Emmanuel Macron dan mantan Kanselir Angela Merkel meluncurkan FCAS pada 2017 sebagai respons terhadap Brexit dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS. Inisiatif pesawat tempur tersebut disertai dengan program tank Prancis-Jerman yang dikenal sebagai Main Ground Combat System (MGCS). Dalam pengaturannya, Prancis memimpin proyek pesawat tempur, sementara Jerman mengawasi program tank.

Sejak saat itu, Presiden Macron berulang kali memperingatkan bahwa jika FCAS gagal, MGCS pada akhirnya dapat mengalami nasib yang sama.

Prancis dan Jerman bergeser dari konsensus ke persaingan

Akhir pekan lalu, Armin Papperger, kepala perusahaan pertahanan terbesar Jerman, Rheinmetall, menambah ketidakpastian. Papperger mengatakan kepada Welt am Sonntag bahwa Paris sedang mempertimbangkan untuk memangkas pendanaan proyek secara drastis, meskipun ia menegaskan bahwa belum ada keputusan final.

“Saya menanggapi peringatan ini dengan sangat serius,” kata Ulrike Franke dari European Council on Foreign Relations (ECFR) di Paris kepada stasiun penyiaran Jerman Deutschlandfunk. Ia menambahkan bahwa proyek tank tersebut telah menghadapi kesulitan yang semakin besar dan sejak awal berkembang lebih lambat dibandingkan dengan FCAS.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jerman mengatakan bahwa Jerman dan Prancis telah sepakat untuk melanjutkan pengembangan MGCS dengan pendekatan yang “tidak bergantung pada platform” dan berfokus pada elemen inti program tersebut. Apakah hal tersebut secara efektif membuat konsep tank tempur utama bersama menjadi tidak relevan masih menjadi pertanyaan terbuka, kata juru bicara kementerian pada Senin (15/6).

Franke melihat sejumlah kesamaan dengan proyek pesawat tempur yang gagal. Seperti dalam program pesawat tempur, perbedaan kebutuhan militer kedua negara mempersulit upaya pengembangan tank secara bersama-sama. Militer Jerman memprioritaskan perlindungan maksimum dan daya tembak tinggi untuk menghadapi ancaman di sayap timur NATO, sementara Prancis lebih memilih tank yang lebih ringan dan dapat diangkut melalui udara untuk misi intervensi cepat.

Pertarungan memperebutkan kepemimpinan teknologi

Namun, kesamaan yang paling mencolok justru terdapat di dalam industri pertahanan itu sendiri, yang secara terbuka disalahkan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius atas runtuhnya FCAS.

“Di tingkat pemerintahan, tangan kami terikat. Pemerintah Jerman dan Prancis sebenarnya sangat ingin melanjutkan proyek ini,” kata Pistorius.

Dalam program FCAS, grup kedirgantaraan Prancis Dassault Aviation secara luas dipandang sebagai mitra yang sulit diajak bekerja sama dan tidak dapat dikendalikan oleh para politisi. “Sejak awal, tidak semua pihak berada pada frekuensi yang sama,” kata Cedric Perrin, ketua Komite Pertahanan Senat Prancis.

Perselisihan panjang mengenai hak kekayaan intelektual dan kepemimpinan proyek pada akhirnya berubah menjadi perebutan dominasi teknologi masa depan di sektor pertahanan.

Dilema serupa juga muncul dalam proyek tank MGCS. Kali ini, pemain dominannya bukan Dassault melainkan Rheinmetall, produsen amunisi terbesar di Eropa.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini