TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Agresivitas Tiongkok yang terus meningkatkan postur militer mereka dinilai menjadi peringatan serius bagi eksistensi Taiwan.
Namun banyak yang mempertanyakan sikap pasif Taipe merespons manuver-manuver militer dan politik China.
Beberapa hari lalu, Beijing menggelar parade militer besar-besaran. Mereka ingin menampilkan mereka telah melakukan modernisasi. Berbagai jenis pesawat nirawak dipertunjukkan. Semua persenjataan itu adalah buatan dalam negeri China.
Pertama kali China menunjukkan rudal berhulu ledak nuklir yang bisa diluncurkan dari darat, laut, dan udara.
Ada pula rudal Dong Feng (Angin Timur) yang bisa menjangkau Guam (kawasan protektorat AS), Hawaii, dan Pangkalan Militer Pulau Diego Garcia di Afrika.
Terdapat pula rudal hipersonik dan laser pertahanan udara.
Pesannya ialah China memiliki kestabilan untuk menjaga kawasan Indo-Pasifik. Pada saat yang sama, juga ada dugaan ini cara China menunjukkan mereka mampu mengambil alih Taiwan jika diperlukan.
Wakil Menteri Pertahanan Bidang Kebijakan Amerika Serikat saat ini, Elbridge Colby, telah mengkritik Taiwan karena "menunjukkan kurangnya urgensi yang mengkhawatirkan dalam memperkuat pertahanannya secara dramatis."
Mengapa Amerika Serikat harus membela Taiwan jika Taiwan tidak mau membela diri?
Pengamat geopolitik Taiwan, Raymond Kuo, mengungkapkan, jika ditelusuri lebih lanjut, masalah sebenarnya adalah polarisasi politik, bukan kemauan untuk berjuang.
"Berbagai indikator yang tumpang tindih menunjukkan bahwa mayoritas — jika bukan supermayoritas — warga Taiwan termotivasi untuk membela negara mereka, bersemangat untuk berorganisasi dan memimpin, dan sangat tertarik dengan peluang pelatihan pertahanan sipil," ujarnya.
Survei secara konsisten menemukan bahwa lebih dari dua pertiga warga Taiwan bersedia berperang dan membela negara mereka jika Tiongkok menginvasi.
Dukungan untuk wajib militer lebih tinggi di Taiwan daripada di Korea Selatan, bahkan di antara kelompok usia wajib militer.
Ia melanjutkan, keseriusan tujuan ini juga tercermin dalam kebijakan pertahanan. Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, Taiwan telah meningkatkan anggaran militernya lebih dari 10 persen dalam dua tahun terakhir, dan 76,8 persen sejak 2016.
Belanja pertahanan mencakup 15 persen dari anggaran pemerintah pusat pada tahun 2024 dan 22 persen pada tahun 2025 — keduanya proporsi yang lebih besar daripada di Amerika Serikat.
Baca tanpa iklan