Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksandr Syrsky, mengatakan Rusia menunda serangannya ke Zaporizhzhia.
Ia mengatakan Rusia telah merencanakan serangan besar ke wilayah tersebut namun berhasil digagalkan oleh militer Ukraina.
"Pada bulan Agustus, musuh berharap untuk meraih keuntungan strategis, melakukan terobosan dan mengepung pasukan kami di wilayah aglomerasi Pokrovsko-Mirnograd, serta merencanakan operasi ofensif skala besar ke arah Novopavlovsk dan Zaporizhzhia," katanya.
Menurut laporan tersebut, tentara Rusia terpaksa menunda serangan di Zaporizhzhia dan memindahkan marinirnya ke wilayah Donetsk.
"Namun, pasukan kami tidak membiarkan niat ini terwujud. Rusia terpaksa menunda serangan di Zaporizhzhia dan memindahkan unit-unit marinir ke wilayah Donetsk," tambahnya.
Laporan tersebut mengatakan Rusia memfokuskan serangannya ke arah Lymansky, Dobropolsky, Pokrovsky, dan Novopavlivsky (persimpangan wilayah Zaporozhye, Dnepropetrovsk, dan Donetsk).
"Musuh menggunakan taktik maju secara merayap oleh kelompok infanteri kecil, mencoba menyusup ke permukiman, memanfaatkan ruang antar posisi, dan menghindari bentrokan," tambah Syrsky.
PM Ukraina Ajak 60 Diplomat Asing Tur ke Bangunan yang Diserang Rusia
Pejabat pemerintah Ukraina memberi pengarahan kepada 60 kepala misi diplomatik tentang dampak salah satu serangan udara terbesar Rusia sejak invasi penuh dimulai.
Dalam postingan yang diunggah di Facebook PM Ukraina, terlihat Gedung Kabinet di Kyiv rusak akibat serangan Rusia pada malam 6–7 September, dan beberapa atap telah diperbaiki.
Perdana Menteri Ukraina Yuliia Svyrydenko menekankan bahwa serangan ini berbeda dari sebelumnya, karena Moskow kini menargetkan lembaga pemerintah, bukan hanya bisnis.
"Ini bukan perilaku negara yang mencari perdamaian. Ini adalah ejekan langsung terhadap setiap upaya diplomatik yang dilakukan oleh dunia beradab," kata Yuliia Svyrydenko pada hari Senin (8/9/2025).
"Ini perang eksistensial. Di antara korban tewas kemarin terdapat seorang bayi berusia dua bulan dan seorang ibu muda. Rusia membunuh anak-anak kita, berusaha menghancurkan masa depan kita," lanjutnya.
"Kami sangat berterima kasih kepada semua diplomat yang telah bersama kami pagi ini. Kehadiran Anda merupakan sinyal solidaritas yang kuat dengan Ukraina selagi kami melanjutkan perjuangan untuk bertahan hidup," tambahnya.
Serangan gabungan Rusia menggunakan drone, amunisi loitering, dan rudal menghantam gedung pemerintahan Ukraina di Kyiv.
Pertahanan udara Ukraina menghancurkan 751 dari 823 aset udara yang diluncurkan Rusia, tetapi 9 rudal dan 54 amunisi loitering mengenai 33 lokasi, menewaskan 4 orang dan melukai lebih dari 44 orang di seluruh Ukraina.
Baca tanpa iklan