TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan agar wilayah Donbas di Ukraina dibagi sebagai cara untuk mengakhiri perang berkepanjangan antara Kyiv dan Moskow.
Usulan itu disampaikan Trump setelah pertemuan yang menegangkan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih pada Jumat (17/10/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Zelensky gagal mengamankan pengiriman rudal jelajah jarak jauh Tomahawk yang diharapkannya dapat memperkuat pertahanan Ukraina.
Berbicara kepada wartawan di pesawat Air Force One, Trump mengatakan perang sebaiknya dihentikan dengan membiarkan garis pertempuran tetap seperti sekarang.
“Biarkan saja dipotong apa adanya. Sudah dipotong sekarang,” kata Trump, dikutip dari The Guardian, Senin (20/10/2025).
“Kedua pihak bisa bernegosiasi nanti, tapi untuk saat ini, berhenti berperang, berhenti membunuh orang," imbuhnya.
Pertemuan Tegang dan Perubahan Sikap Trump
Sebelumnya pada September, Trump sempat menyatakan keyakinannya bahwa Ukraina bisa merebut kembali seluruh wilayahnya, bahkan “melangkah lebih jauh” ke Rusia.
Dilansir Reuters, pertemuannya dengan Zelensky menandai perubahan sikap signifikan, terutama setelah panggilan telepon panjang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (16/10/2025).
Dua sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Trump telah mendesak Zelensky untuk menyerahkan sebagian besar wilayah Donbas, termasuk Donetsk dan Luhansk, kepada Rusia.
Sebagai imbalannya, Moskow disebut bersedia menarik pasukannya dari sebagian kecil wilayah Zaporizhzhia dan Kherson.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, disebut menjadi salah satu pihak yang paling vokal mendorong Ukraina agar menyetujui pertukaran wilayah tersebut.
Washington Post melaporkan bahwa usulan ini muncul setelah Putin menawarkan skema serupa kepada Trump melalui sambungan telepon, yang membuka peluang pertemuan lanjutan antara kedua pemimpin di Budapest.
Zelensky Pulang dengan Tangan Hampa
Zelensky datang ke Washington dengan harapan bisa memanfaatkan ketegangan antara Trump dan Putin untuk mendapatkan dukungan militer baru.
Dikutip The Guardian, ia pulang tanpa hasil konkret setelah gagal memperoleh rudal Tomahawk.
Baca juga: Zelensky Minta Eropa Tak Lunak kepada Rusia setelah AS Kubur Harapan soal Tomahawk
Senjata tersebut, yang memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer, akan memungkinkan Ukraina menyerang target jauh di dalam wilayah Rusia dengan presisi tinggi, termasuk Moskow.
Baca tanpa iklan