TRIBUNNEWS.COM - Publik dunia saat ini tengah dihadapkan pada kekhawatiran baru setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi jenis virus yang menyerang kapal pesiar MV Hondius.
Wabah penyakit pernapasan akut yang mematikan di atas kapal pesiar mewah tersebut resmi dinyatakan bersumber dari serangan Hantavirus strain Andes.
Pada awal munculnya kasus kematian pertama di atas kapal, banyak pihak yang salah menduga bahwa gejala yang dialami korban hanyalah akibat dari serangan flu biasa.
Namun, BBC melaporkan bahwa hantavirus umumnya menyebar dari hewan pengerat, tetapi para ahli kini meyakini bahwa virus tersebut telah menyebar antarmanusia di atas kapal.
Temuan ilmiah ini langsung memicu kekhawatiran global karena Hantavirus strain Andes dikenal memiliki karakteristik penularan yang sangat berbeda dari jenis virus pernapasan lainnya.
Beda Karakteristik dengan Covid-19 dan Influenza
Direktur kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi WHO, Dr Maria Van Kerkhove, memberikan penjelasan penting bahwa cara penularan strain Andes ini tidak boleh disamakan dengan flu atau Covid-19.
Menurut penjelasannya kepada CNN, penularan strain Andes tidak terjadi secara kasual atau menyebar begitu saja di udara dari jarak yang sangat jauh.
Sebaliknya, penyebaran virus mematikan ini membutuhkan kontak fisik yang sangat dekat, intim, dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama di antara orang yang berinteraksi.
Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa transmisi virus dapat terjadi dengan cepat di lingkungan tertutup seperti di dalam kabin penumpang kapal pesiar MV Hondius.
WHO berasumsi bahwa sebagian besar kasus penularan di atas kapal terjadi pada orang-orang yang memiliki hubungan sangat dekat, seperti pasangan suami-istri atau penumpang yang berbagi satu kamar tidur.
Baca juga: Ramai Kabar Penyebaran Hantavirus, Amankah Liburan Naik Kapal Pesiar? Ini Tips dari Pakar
Puncak Penularan di Hari Pertama Demam
CNN melaporkan penjelasan mendalam dari ahli mikrobiologi terkemuka di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, Dr Gustavo Palacios, mengenai perilaku unik dari virus ini.
Berdasarkan studi ilmiah yang dilakukannya terhadap wabah terdahulu di Argentina, Dr Palacios mengungkapkan bahwa puncak penularan virus Andes terjadi tepat pada hari pertama gejala demam muncul.
Meskipun jendela penularannya tergolong sangat singkat, virus ini memiliki kemampuan replikasi yang sangat cepat begitu berhasil masuk ke dalam tubuh inang yang baru.
Hal ini membuat siapa saja yang berada dalam jarak yang sangat dekat dengan pasien demam pada hari pertama berada dalam risiko paparan yang sangat tinggi.
Ancaman Tanpa Obat dan Vaksin
Lebih mengerikan lagi, Hantavirus strain Andes yang terdeteksi pada klaster MV Hondius ini memiliki tingkat kematian (case fatality rate) yang sangat mengerikan, yaitu berkisar antara 38 persen hingga 40 persen.
Baca tanpa iklan