TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan bergerak cepat untuk melemahkan kemampuan militer Iran jika perundingan gagal.
AS diperkirakan akan memulai dengan melumpuhkan sistem rudal, aset angkatan laut, dan jaringan komando sebelum beralih ke target yang lebih kontroversial, menurut laporan Fox News yang mengutip para analis.
Para negosiator masih berupaya mencapai kesepakatan mengenai program nuklir Iran dan kemungkinan pencabutan sanksi.
Namun, mantan perencana Staf Gabungan AS, Seth Krummrich, mengatakan kedua belah pihak memulai "dari minus 1.000" karena tidak saling percaya.
Laporan tersebut menyebut serangan AS baru-baru ini terhadap pelabuhan Qeshm dan Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, menunjukkan rapuhnya proses tersebut.
Seorang pejabat senior AS mengatakan serangan itu bukan untuk memulai kembali perang ataupun mengakhiri gencatan senjata.
Serangan itu menyusul peluncuran 15 rudal balistik dan jelajah Iran ke Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), yang digambarkan pejabat AS sebagai serangan tingkat rendah.
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan bahwa AS dapat melanjutkan pemboman terhadap Iran jika perundingan gagal, termasuk kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi dan pusat ekspor.
Letnan Jenderal Angkatan Udara Purnawirawan David Deptula mengatakan konflik yang kembali memanas dapat menjadi perebutan kendali eskalasi.
Target AS kemungkinan mencakup rudal balistik dan jelajah, pertahanan udara, aset serangan maritim, jaringan komando, infrastruktur IRGC, saluran dukungan proksi, serta fasilitas terkait nuklir.
Salah satu fokus awal kemungkinan adalah kapal serang cepat Iran di Selat Hormuz.
Baca juga: Pengamat: Persepsi ‘Menang Konflik’ Hambat Peluang Kesepakatan Damai Iran dan AS
RP Newman, analis militer sekaligus veteran Korps Marinir, mengatakan AS telah menghancurkan enam kapal, sementara Iran masih memiliki sekitar 400 kapal.
Ia juga mengatakan kurang dari 1 persen pasukan IRGC telah tewas, dengan jumlah pasukan yang masih berkisar antara 150.000 hingga 190.000 personel.
Laksamana Muda Purnawirawan Mark Montgomery mengatakan AS kemungkinan akan melanjutkan tekanan ekonomi selama tiga hingga enam minggu lagi sebelum melakukan eskalasi yang lebih luas.
Fox News melaporkan blokade maritim AS digunakan sebagai alternatif dibandingkan langsung menyerang Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.
Baca tanpa iklan