Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo – Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Sejak Jumat (14/11/2025), China mengimbau warganya untuk tidak berwisata ke Jepang dengan alasan situasi keamanan di Jepang dianggap memburuk.
Lalu, apa dampaknya bagi Jepang jika turis China benar-benar berhenti datang?
Menurut sumber Tribunnews.com dari kalangan pariwisata Jepang, kontribusi turis China terhadap belanja wisatawan di Jepang ternyata tidak terlalu besar.
“Kecil sekali dampaknya bagi Jepang kalau turis China tidak masuk.
Konsumsi dari turis China hanya sekitar 5?ri total belanja turis di Jepang,” ujar sumber tersebut.
Berdasarkan data 31 Desember 2024, hilangnya turis China hanya akan mengurangi spending wisata sekitar 5 persen atau setara 1,7 triliun yen.
Sumber yang sama menambahkan bahwa ketidakhadiran turis China justru bisa dianggap mengurangi masalah perilaku (manner) yang kerap dikeluhkan masyarakat.
“Daripada bikin pusing orang Jepang dengan kelakuan mereka—buang sampah sembarangan, ribut di mana-mana, memotret lokasi privat meski sudah dilarang—lebih baik mereka tidak usah datang,” ungkapnya.
Baca juga: Pertemuan 30 Menit, PM Jepang dan Dua Menteri Indonesia Sepakati Penguatan Hubungan Bilateral
Belanja Wisata Jepang Didominasi Turis Domestik
Total pengeluaran turis—baik domestik maupun mancanegara—mencapai 31 triliun yen per tahun.
Dari jumlah tersebut, turis asing menyumbang 8,1 triliun yen pada akhir 2024.
Dengan demikian, kontribusi turis Cina hanya sekitar 20,9?ri belanja turis asing, atau 5,5 persen dari total keseluruhan spending wisata di Jepang.
Bagi sebagian masyarakat Jepang, kehilangan pemasukan 1,7 triliun yen dinilai lebih ringan dibanding menghadapi gangguan yang ditimbulkan oleh sebagian turis China.
Keluhan dari Warga Kyoto
Keluhan tentang perilaku turis China banyak terdengar terutama dari warga Kyoto—kota wisata yang kini disebut mengalami overtourism.
Uminoyama, warga lokal, menuturkan kepada Tribunnews.com.
Baca tanpa iklan