News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Berita Populer Hari Ini

Dunia Hari Ini: Korban Tewas Kebakaran di Hong Kong Tembus 83 Orang - Program Militer Baru Prancis

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BERITA POPULER INTERNASIONAL - Tangkap layar YouTube FRANCE 24 English, memperlihatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan program militer baru untuk warga berusia 18-19 tahun, Kamis (27/11/2025). Inilah rangkuman berita populer internasional hari ini.

Ringkasan Berita:

  • Kebakaran besar di kompleks apartemen Hong Kong, kini menewaskan sedikitnya 83 orang dan melukai puluhan lainnya, menjadikannya salah satu tragedi paling mematikan di kota itu dalam beberapa dekade.
  • Di Tepi Barat, dua pria Palestina tewas ditembak pasukan Israel meski tampaknya menyerah
  • Sementara itu Prancis meluncurkan program militer baru bagi relawan muda usia 18–19 tahun.


TRIBUNNEWS.COM – 
Sejumlah peristiwa besar mewarnai dunia internasional hari ini, Jumat (28/11/2025).

Jumlah korban tewas dalam kebakaran tragis di Hong Kong terus bertambah hingga menembus 83 orang.

Di Eropa, Prancis meluncurkan program militer terbarunya sebagai bagian dari strategi penguatan pertahanan.

Berikut rangkuman berita selengkapnya, seperti dilansir Associated Press dan Reuters.

1. Setidaknya 83 orang tewas saat petugas pemadam kebakaran Hong Kong berjuang memadamkan menara yang terbakar untuk hari kedua

Petugas pemadam kebakaran berjuang untuk hari kedua memadamkan api di sebuah kompleks apartemen bertingkat tinggi di Hong Kong pada hari Kamis (27/11/2025).

Sementara itu, jumlah korban tewas meningkat menjadi 83 orang.

Ini adalah salah satu kebakaran paling mematikan dalam sejarah modern kota tersebut.

Tim penyelamat yang membawa senter menyusuri apartemen demi apartemen di menara yang hangus, sementara asap tebal mengepul dari beberapa jendela di kompleks Wang Fuk Court, sebuah kawasan padat penduduk yang menampung ribuan orang di distrik Tai Po, pinggiran utara Hong Kong dekat perbatasan daratan utama.

Para pejabat mengatakan petugas pemadam kebakaran masih bekerja di beberapa apartemen dan berupaya memasuki semua unit di tujuh menara untuk memastikan tidak ada korban jiwa yang tertinggal.

“Operasi pemadaman kebakaran kami hampir selesai,” kata Derek Armstrong Chan, wakil direktur Operasi Layanan Pemadam Kebakaran. 

Petugas pemadam kebakaran, lanjutnya, bekerja keras untuk mencegah puing-puing dan bara api kembali berkobar.

Tahap selanjutnya adalah operasi pencarian dan penyelamatan.”

Baca juga: Teori Penyebab Kebakaran Apartemen di Hong Kong: Penggunaan Perancah Bambu hingga Rokok Pekerja

Belum jelas berapa banyak orang yang masih hilang atau terjebak. 

Pemimpin Hong Kong, John Lee, mengatakan kontak dengan 279 orang terputus pada Kamis pagi.

Pihak berwenang tidak memberikan pembaruan mengenai jumlah orang hilang atau berapa banyak yang mungkin masih berada di dalam gedung yang hancur tersebut dalam konferensi pers hari itu.

Video menunjukkan tim penyelamat memeriksa sejumlah apartemen dalam kegelapan.

Cahaya oranye dari api masih terlihat dari beberapa jendela, meski sebagian besar kompleks kini hanya menyisakan reruntuhan menghitam.

Petugas pemadam kebakaran telah berupaya mengendalikan api sejak Rabu sore.

Api diyakini bermula dari perancah bambu dan jaring konstruksi, kemudian menyebar ke tujuh dari delapan bangunan kompleks.

Chan mengatakan api menyebar sangat cepat ke seluruh menara, dan petugas darurat kesulitan mengakses lokasi.

“Puing-puing dan perancah berjatuhan dari lantai atas,” ujarnya kepada wartawan.

“Ada juga faktor lain seperti suhu yang sangat tinggi, kondisi gelap serta akses kendaraan darurat yang terhalang oleh perancah dan puing jatuh, sehingga membuat kami sangat sulit mencapai gedung.”

Lebih dari 70 orang terluka, termasuk 11 petugas pemadam kebakaran, kata Dinas Pemadam Kebakaran.

Sekitar 900 orang dievakuasi ke tempat penampungan sementara pada malam hari.

Paus Leo XIV mengirimkan telegram kepada uskup Hong Kong pada hari Kamis, menyampaikan duka cita atas tragedi tersebut dan mendoakan para korban luka, keluarga mereka, serta petugas tanggap darurat.

Warga bernama Lawrence Lee masih menunggu kabar mengenai istrinya, yang ia yakini terjebak di apartemen mereka.

Baca juga: PBB Desak Investigasi Serangan Israel di Lebanon yang Tewaskan 13 Warga Sipil

“Ketika kebakaran terjadi, saya menyuruhnya melalui telepon untuk melarikan diri. Namun setelah ia keluar dari apartemen, koridor dan tangga dipenuhi asap dan gelap total, jadi ia tidak punya pilihan selain kembali lagi,” ujarnya, sembari menunggu di tempat penampungan sepanjang malam.

Winter dan Sandy Chung, penghuni salah satu menara, mengatakan mereka melihat percikan api berjatuhan saat dievakuasi pada Rabu sore.

Meski selamat, mereka khawatir terhadap kondisi rumah mereka. “Saya tidak bisa tidur sepanjang malam,” kata Winter Chung, 75 tahun, kepada The Associated Press.

2. Pasukan Israel membunuh dua warga Palestina di Tepi Barat yang tampaknya sudah menyerah

Pasukan keamanan Israel menembak dua pria Palestina pada hari Kamis (27/11/2025).

Padahal, dua pria tersebut tampak sudah menyerah dan tidak bersenjata dalam sebuah penggerebekan di Tepi Barat yang diduduki, menurut rekaman Palestine TV.

Dalam rekaman tersebut, kedua pria terlihat keluar dari sebuah gedung yang dikepung pasukan Israel bersenjata di kota Jenin, Tepi Barat utara.

Mereka mengangkat baju dan berbaring di tanah, seolah menyerah.

Pasukan kemudian tampak mengarahkan mereka kembali ke dalam gedung sebelum terdengar tembakan jarak dekat.

Seorang jurnalis Reuters di lokasi melihat kedua pria meninggalkan gedung dalam keadaan menyerah.

Tak lama setelah suara tembakan terdengar, ia melihat pasukan Israel berdiri di dekat dua jasad yang tampak tak bernyawa.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan kedua pria tewas akibat tembakan tersebut, dan mengidentifikasi mereka sebagai Montasir Abdullah (26) dan Yusuf Asasa (37).

Militer dan Kepolisian Israel mengeluarkan pernyataan bersama bahwa mereka telah membuka penyelidikan terkait insiden tersebut.

Namun pernyataan itu tidak menjelaskan alasan penembakan, maupun menyebut bahwa kedua pria sudah tergeletak sebelum diarahkan kembali ke dalam gedung.

Gubernur Jenin, Kamal Abu al-Rub, menuduh pasukan Israel melakukan eksekusi berdarah dingin terhadap dua pria yang menurutnya tidak bersenjata dan telah menyerahkan diri.

Ia menyatakan mereka yang menembak harus bertanggung jawab, tetapi meragukan Israel akan melakukan penyelidikan serius.

Kelompok Hamas, yang bulan lalu menyetujui gencatan senjata di Gaza, mengecam penembakan tersebut sebagai “eksekusi,” dan mendesak komunitas internasional menghentikan apa yang disebutnya “eskalasi eksekusi lapangan.”

Hamas tidak mengklaim kedua pria itu sebagai anggota.

Baca juga: Turki Siapkan Kubah Baja, Apa Beda Steel Dome dan Iron Dome Israel?

3. Presiden Prancis meluncurkan program militer baru untuk relawan berusia 18 dan 19 tahun

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Kamis (27/11/2025) meluncurkan program baru untuk memperkuat angkatan bersenjata Prancis dengan melatih ribuan sukarelawan berusia 18 dan 19 tahun mulai tahun depan.

Program ini merupakan bagian dari respons yang lebih luas terhadap meningkatnya kekhawatiran atas ancaman Rusia terhadap negara-negara Eropa di luar perang Ukraina.

Para sukarelawan muda ini akan mengenakan seragam militer selama 10 bulan dan bertugas di wilayah daratan maupun wilayah luar negeri Prancis, namun tidak dalam operasi tempur di luar negeri, ujar Macron dalam pidatonya di pangkalan militer Varces di Pegunungan Alpen Prancis.

“Dinas nasional baru akan dibentuk secara bertahap mulai musim panas ini,” kata Macron.

“Di dunia yang penuh ketidakpastian, di mana kekuasaan mengalahkan hukum dan perang selalu menjadi ancaman, bangsa kita tidak boleh takut, panik, tidak siap, atau terpecah.”

Program ini akan dimulai dengan 3.000 pemuda yang akan diseleksi musim panas mendatang, lalu meningkat menjadi 10.000 per tahun pada 2030.

Prancis menargetkan hingga 50.000 relawan per tahun pada 2035, angka yang dapat disesuaikan sesuai perkembangan global, tambah Macron.

Para sukarelawan akan berstatus militer dan menerima gaji serta perlengkapan.

Setelah satu bulan pelatihan, mereka menjalani sembilan bulan tugas di unit tertentu dan melakukan misi yang sama dengan personel aktif.

Setelah masa penugasan, mereka akan masuk cadangan militer sambil melanjutkan pendidikan atau bekerja.

Mereka yang berminat dapat melanjutkan ke karier militer penuh waktu.

Tentara reguler Prancis umumnya mendaftar untuk durasi 2–10 tahun yang bisa diperpanjang.

Wajib militer yang dihentikan sejak 1996 tidak dipertimbangkan kembali.

Hanya dalam “keadaan luar biasa” parlemen dapat mengizinkan mereka yang keterampilannya teridentifikasi dalam kursus pertahanan satu hari untuk direkrut secara wajib, kata Macron.

Jenderal (Purn) Jean-Paul Paloméros, mantan Kepala Angkatan Udara Prancis, mengatakan pelatihan ribuan relawan muda akan menekan sumber daya militer yang sudah terbatas, namun tetap menilai program ini penting untuk mempersiapkan Prancis menghadapi ancaman masa depan.

“Ini langkah baik, meski tidak mudah,” ujarnya dalam wawancara.

“Namun program ini diperlukan agar generasi muda memahami bahwa kebebasan dan perdamaian tidak datang begitu saja.”

4. Putin melihat rencana perdamaian AS sebagai titik awal saat ia memperingatkan tentara Ukraina untuk mundur

Proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dapat menjadi titik awal perundingan, ujar Presiden Rusia Vladimir Putin, sembari mengimbau pasukan Ukraina untuk mundur atau menghadapi serangan besar-besaran dari pasukan Rusia.

“Kita perlu duduk dan membahas ini dengan serius,” kata Putin kepada wartawan di akhir kunjungan tiga hari ke Kirgistan. “Setiap kata penting.”

Ia menggambarkan rencana Presiden AS Donald Trump sebagai serangkaian isu untuk dibahas, bukan sebuah rancangan kesepakatan.

“Jika pasukan Ukraina mundur dari wilayah yang mereka duduki, permusuhan akan berhenti. Jika tidak, kami akan melakukannya dengan paksa,” tegasnya.

Kremlin sebelumnya tidak banyak mengomentari rencana perdamaian tersebut.

Sejak invasi dimulai, Putin tidak menunjukkan sinyal untuk mengalah dari tujuannya, meski Trump mendesak penyelesaian.

Putin menegaskan Ukraina harus menarik diri sepenuhnya dari Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhia, termasuk area yang tidak dikuasai Rusia.

Ia juga ingin mencegah Ukraina bergabung dengan NATO agar Moskow bisa mengembalikan negara itu ke orbitnya.

Kremlin mengatakan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dijadwalkan mengunjungi Moskow minggu depan.

Sementara Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll, yang memainkan peran penting dalam pembicaraan perdamaian, kemungkinan akan menuju Kyiv.

Proposal awal AS dinilai sangat condong ke kompromi yang diinginkan Rusia, namun versi amandemen muncul dari perundingan di Jenewa antara pejabat AS dan Ukraina.

Pemimpin Eropa, yang khawatir pada keamanan mereka di tengah agresi Rusia, kini mendorong keterlibatan lebih besar.

5. Jenderal dilantik sebagai pemimpin baru Guinea-Bissau, presiden terguling tiba di Senegal

Militer Guinea-Bissau melantik Mayor Jenderal Horta Inta-a sebagai presiden transisi pada hari Kamis (27/11/2025), sehari setelah tentara menggulingkan pemerintahan sipil dalam perebutan kekuasaan yang terjadi cepat menjelang pengumuman hasil pemilu akhir pekan.

Presiden yang digulingkan, Umaro Sissoco Embalo, tiba di Senegal dengan penerbangan khusus setelah intervensi blok regional Afrika Barat, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Senegal.

Kudeta ini merupakan yang kesembilan di Afrika Barat dan Tengah dalam lima tahun terakhir, memperpanjang rangkaian ketidakstabilan di Guinea-Bissau, negara yang dikenal sebagai pusat transit kokain dan memiliki sejarah panjang intervensi militer dalam politik.

“Komando Militer Tinggi untuk Pemulihan Ketertiban”, yang menamakan diri mereka, mengumumkan dalam siaran televisi pada Rabu bahwa mereka merebut kekuasaan dari Embalo, dan menyebut tindakan itu sebagai respons terhadap rencana destabilisasi yang melibatkan politisi dan bandar narkoba, tanpa memberikan rincian.

Dalam penampilan publik pertamanya, Inta-a, dengan mengenakan seragam militer dan diapit sejumlah pejabat, mengatakan kudeta diperlukan untuk mencegah para pengedar narkoba merebut demokrasi Guinea. 

Ia mengatakan masa transisi akan berlangsung selama satu tahun, dimulai segera.

Dalam pelantikan Kamis malam, ia menunjuk Mayor Jenderal Tomas Djassi sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Pengambilalihan ini terjadi sehari sebelum hasil sementara pemilu diumumkan, di mana Embalo bersaing dengan Fernando Dias, pendatang baru berusia 47 tahun yang menjadi penantang utama.

Baca juga: Ukraina Revisi Rencana Perdamaian AS, Gedung Putih Bantah Donald Trump Berpihak ke Vladimir Putin

Sebelum kudeta diumumkan, baku tembak terjadi di ibu kota Bissau selama sekitar satu jam di dekat kantor komisi pemilu dan istana presiden.

Embalo menelepon media Prancis untuk mengonfirmasi bahwa ia telah digulingkan.

Dalam pernyataan militer tertanggal Kamis, sebelum Senegal mengumumkan evakuasi Embalo, disebutkan bahwa Embalo dan sejumlah pejabat tinggi berada di bawah kendali Komando Militer Tinggi.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini