TRIBUNNEWS.COM - Gelombang aksi protes kembali pecah di Israel, ratusan warga memadati kawasan luar kediaman Presiden Isaac Herzog di Tel Aviv, sejak Minggu (30/11/2025) malam.
Demonstran berkumpul mendesak agar permohonan ampun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tidak dikabulkan.
Hal ini jadi gelombang penolakan baru terhadap proses hukum yang melibatkan tokoh politik paling berpengaruh di Israel dalam beberapa dekade terakhir.
Mengutip laporan Al Jazeera, protes dimulai hanya beberapa jam setelah Netanyahu mengirim surat resmi kepada Presiden Herzog, meminta pengampunan dalam kasus korupsi yang membelitnya selama lima tahun terakhir.
Netanyahu diketahui tengah menghadapi persidangan terkait tuduhan penyuapan, penipuan, serta pelanggaran kepercayaan dalam tiga kasus terpisah.
Ia diduga menerima hadiah mewah berupa perhiasan, cerutu premium, dan sampanye dari sejumlah miliarder dengan imbalan dukungan kebijakan dan kemudahan akses politik.
Meski sejumlah bukti telah membuktikan bahwa Netanyahu terlibat kasus korupsi besar di Israel, namun perdana menteri itu menyampaikan permohonan kepada Presiden tanpa pengakuan bersalah ataupun penyesalan.
Alasan tersebut yang membuat masyarakat Israel murka. Banyak warga menilai bahwa jika pengampunan diberikan, maka ini akan membuka celah bagi pemimpin negara untuk lolos dari jerat hukum meskipun diduga melakukan pelanggaran berat.
Aktivis anti pemerintah Shikma Bressler dalam orasinya juga menilai permohonan ampun Netanyahu sebagai tindakan yang mengabaikan prinsip dasar hukum.
Ia menyebut bahwa permintaan tersebut diajukan tanpa rasa tanggung jawab, tanpa pengakuan kesalahan, dan tanpa penyesalan.
Baca juga: Di Tengah Badai Kasus Korupsi, Netanyahu Minta Pengampunan ke Presiden Israel
Menurutnya, dampak keputusan presiden tidak hanya menyentuh proses hukum, tetapi juga masa depan demokrasi Israel.
Sehingga prinsip keadilan dan kesetaraan di mata hukum dikhawatirkan runtuh.
“Dia meminta persidangannya dihapus begitu saja, tanpa tanggung jawab, tanpa harga yang harus dibayar. Ini menyangkut masa depan negara kami,” tegas Bressler dari tengah kerumunan.
Parlemen Israel Turun Tangan
Tak hanya warga sipil, aksi demo yang berlangsung sejak Minggu itu turut dihadiri puluhan anggota parlemen oposisi.
Termasuk diantaranya Yair Lapid, ia menegaskan bahwa pengampunan hanya dapat diberikan jika Netanyahu mengakui kesalahan dan mundur dari jabatan publik.
Baca tanpa iklan