TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hujan lebat yang mengguyur Jalur Gaza pada 25 November menyebabkan banjir dan merendam puluhan ribu tenda pengungsian.
Kondisi ini memperparah situasi sekitar 1,5 juta pengungsi yang sudah hidup dalam tenda-tenda rapuh sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023.
Ribuan tenda rusak atau hanyut, bahkan sebuah rumah sakit lapangan terpaksa berhenti beroperasi.
Baca juga: Israel 591 Kali Langgar Gencatan Senjata, Hamas Bersiap Lanjutkan Perang: Gaza Tak Akan Jadi Lebanon
Akses bantuan musim dingin terhambat akibat pembatasan Israel terhadap truk bantuan, membuat pengungsi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Muhammad Qaddoura, penanggung jawab program INH di Gaza mengatakan, warga Palestina di Jalur Gaza yang kini menghadapi musim dingin ekstrem di tengah situasi konflik dan krisis kemanusiaan yang terus berlanjut.
Fakta ini mendorong International Networking for Humanitarian (INH) kembali menyalurkan bantuan darurat berupa ribuan paket selimut musim dingin didistribusikan kepada para pengungsi yang tinggal di Kamp Pengungsian Al-Sheikh Radwan, Gaza City, Palestina.
Distribusi ini dilakukan sebagai bagian dari Program Musim Dingin INH, yang menyasar keluarga-keluarga pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat eskalasi kekerasan dan serangan yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah pemukiman di Gaza.
Banyak warga kini bertahan di kamp pengungsian dengan fasilitas terbatas, tanpa perlindungan memadai dari cuaca dingin ekstrem yang telah melanda wilayah tersebut sejak awal bulan november ini.
Muhammad Qaddoura mengatakan ribuan paket selimut hangat dikirimkan dan langsung dibagikan kepada keluarga pengungsi, terutama anak-anak, dan lansia yang paling rentan terhadap suhu rendah yang tengah berlangsung di wilayah Gaza-Palestina.
“Musim dingin di Gaza sangat berat, terutama bagi warga yang terpaksa tinggal di tenda darurat. Bantuan selimut ini menjadi kebutuhan mendesak agar mereka dapat bertahan dari suhu malam yang sangat dingin,” ujar Qaddoura, Senin (1/12/2025)
Bantuan ini juga disalurkan ke beberapa titik penampungan lain di sekitar Gaza City yang menampung warga yang kehilangan rumah akibat serangan berkelanjutan.
Baca juga: Laporan SIPRI Ungkap Pendapatan Industri Senjata Melejit Dipicu Perang Gaza hingga Ukraina
"Untuk budget anggaran program 1,128 selimut ini kami mengeluarkan dana sebesar USD80.000 atau setara dengan Rp1,3 miliar dengan total jumlah penerima manfaat sebanyak 2,256 jiwa atau 564 keluarga," jelasnya.
Menurutnya, situasi kemanusiaan di Gaza hingga kini masih memburuk akibat terbatasnya akses bantuan internasional. Banyak lembaga kemanusiaan menghadapi hambatan logistik, pembatasan akses, serta risiko keamanan yang tinggi saat menyalurkan bantuan.
Meski demikian, INH menegaskan komitmennya untuk terus mengirimkan dukungan bagi warga Gaza yang kini benar-benar membutuhkan bantuan dan kehadiran dunia untuk bersama-sama membantu mereka.
“Kehadiran bantuan ini adalah bentuk solidaritas masyarakat internasional. Selimut mungkin terlihat kecil, tetapi di Gaza, ini berarti perlindungan nyawa,” tambahnya.
Baca tanpa iklan