TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jumlah tenaga perawat dan caregiver asal Indonesia yang bekerja di Jepang terus meningkat setiap tahun.
Berdasarkan data keimigrasian Jepang, hingga pertengahan 2024 jumlah tenaga perawatan asal Indonesia telah mencapai lebih dari 15.000 orang.
Mereka tersebar di berbagai fasilitas kesehatan dan panti lansia di seluruh Jepang.
"Data menunjukkan bahwa sekitar 9.760 pekerja Indonesia bekerja di sektor perawatan lansia melalui skema Specified Skilled Worker (SSW), sebuah program khusus pemerintah Jepang untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di bidang perawatan," ungkap sumber Tribunnews.com pejabat pemerintah Jepang Rabu (10/12/2025).
Selain itu, kata dia terdapat sekitar 3.124 pekerja magang teknis (Gino Jisshu) yang juga ditempatkan di fasilitas keperawatan, serta lebih dari 1.160 tenaga caregiver bersertifikat yang telah menyelesaikan pelatihan atau memperoleh sertifikasi bekerja secara penuh dalam sistem layanan keperawatan Jepang.
Jika digabungkan, total pekerja Indonesia di bidang ini mencapai lebih dari 15.000 orang dan terus bertambah.
Baca juga: Indonesia Diminta Tetap Netral Sikapi Memanasnya Eskalasi Konflik China Vs Jepang
Jumlah ini menjadikan Indonesia salah satu negara penyumbang tenaga perawatan terbesar bagi Jepang, bersama Vietnam dan Filipina.
Jepang Masih Kekurangan Ratusan Ribu Perawat
Meskipun jumlah pekerja meningkat, Jepang diperkirakan masih akan menghadapi krisis tenaga perawat dalam beberapa dekade ke depan.
Pemerintah Jepang memperkirakan bahwa pada tahun 2040 negara tersebut akan kekurangan sekitar 570.000 pekerja caregiver dan perawat lansia, seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Pada tahun 2025, Jepang memasuki puncak fenomena disebut 2025 Mass Aging Crisis di mana generasi baby-boomer (danka sedai) masuk kategori usia 75 tahun ke atas dan membutuhkan layanan kesehatan jangka panjang.
Indonesia di Mata Jepang: Potensi Tenaga Profesional
Sejumlah lembaga kesehatan dan perusahaan operator panti lansia di Jepang menilai pekerja asal Indonesia memiliki reputasi baik, terutama dalam hal komunikasi, sikap kerja, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya Jepang.
Beberapa fasilitas bahkan menyebut tingkat retensi tenaga Indonesia lebih tinggi dibandingkan dari negara lain.
Namun tantangan tetap ada, terutama pada tiga aspek yaitu kemampuan bahasa Jepang (minimal N3–N2 untuk bekerja sebagai caregiver profesional).
Kemudian juga proses sertifikasi keperawatan lokal yang ketat, serta tekanan kerja fisik dan emosional akibat beban pekerjaan yang tinggi.
Baca tanpa iklan