Ringkasan Berita:
- Jepang menghadapi kelangkaan tenaga perawatan di daerah karena banyak pekerja asing pindah ke kota demi gaji lebih tinggi.
- Data resmi menunjukkan mobilitas tenaga asing terus meningkat, terutama pemegang status SSW.
- Beberapa model seperti Yamanashi sukses mempertahankan pekerja melalui fasilitas dan dukungan yang lebih manusiawi.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jepang kembali menghadapi tantangan baru dalam sektor tenaga perawatan.
Banyak perawat asing yang bekerja di daerah pedesaan memilih mengundurkan diri dan berpindah ke kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka.
“Sekarang muncul fenomena baru: kelangkaan tenaga kerja justru terjadi di daerah pedesaan, karena banyak pekerja asing memilih pindah ke kota,” ujar seorang pengusaha lembaga medis di Tokyo, Rabu (10/12/2025).
Keluhan serupa datang dari operator layanan keperawatan di Prefektur Okinawa.
Setelah tenaga asing mereka dilatih bahasa Jepang, dibina kemampuan caregiving, hingga siap bekerja shift malam, banyak dari mereka justru pindah ke daerah lain demi gaji yang lebih tinggi.
“Dari lima pekerja yang kami rekrut, empat di antaranya pindah ke prefektur lain,” katanya.
Baca juga: Jumlah Perawat asal Indonesia di Jepang Tembus 15.000 Orang
Mobilitas Tinggi Tenaga Asing: Data Resmi Menguatkan Tren
Menurut Badan Layanan Imigrasi Jepang, sejak diberlakukannya status Specified Skilled Worker (SSW) pada 2019 hingga November 2022, sekitar 1.600 pekerja asing sektor keperawatan mengundurkan diri dan berpindah kerja secara sukarela.
Diperkirakan sepertiga dari mereka berpindah ke perusahaan lain dalam industri yang sama.
Sejak 2008, Jepang telah menerima calon perawat asing dari Indonesia, Filipina, dan Vietnam melalui skema Economic Partnership Agreement (EPA).
Namun, karena persyaratan ketat—terutama kewajiban kembali ke negara asal bila gagal ujian kualifikasi—jumlah tenaga asing yang bertahan hingga Oktober 2025 hanya sekitar 2.670 orang.
Pada 2017, pemerintah memasukkan sektor keperawatan dalam program visa pelatihan teknis Gino Jisshu, yang telah berjalan sejak 2010.
Program ini akan ditinjau dan kemungkinan dihapus sekitar 2030.
Hingga Desember 2024, terdapat 20.065 pekerja asing yang bekerja sebagai peserta magang teknis di sektor pengasuhan, terutama dari Vietnam, Myanmar, dan Indonesia.
Masa tinggalnya tiga tahun, dapat diperpanjang menjadi lima tahun.
Sementara itu, status SSW berkembang pesat.
Hingga Juni 2025, jumlah pekerja asing SSW di sektor pengasuhan mencapai 54.916 orang, mayoritas merupakan mantan peserta magang teknis.
Per Desember 2024, terdapat pula 12.227 tenaga asing yang telah memiliki sertifikasi pekerja perawatan Jepang dan mengantongi status residensi “caregiver”, dengan masa tinggal yang dapat diperpanjang setelah lima tahun.
Di luar data resmi itu, masih banyak pekerja asing tidak tercatat secara formal, termasuk ibu rumah tangga asal Filipina atau Thailand yang menikah dengan warga Jepang serta mahasiswa internasional yang bekerja paruh waktu.
Survei: Tokyo, Kanagawa, dan Aichi Jadi Magnet Baru
Survei terhadap 192 fasilitas keperawatan menunjukkan lebih dari separuh mengalami kehilangan tenaga asing dalam lima tahun terakhir (tahun fiskal 2024).
Mayoritas dari mereka pindah ke kawasan metropolitan seperti Tokyo, Kanagawa, dan Aichi, yang menawarkan gaji serta fasilitas lebih baik.
Sebaliknya, prefektur seperti Yamagata, Ehime, Hiroshima, dan Miyazaki menjadi daerah yang paling banyak kehilangan tenaga.
Ada Contoh Keberhasilan: Model Yamanashi
Di tengah tantangan mempertahankan tenaga asing, Yamanashi Medical Care Cooperative muncul sebagai contoh sukses.
Sekitar 70 persen pekerja asing bertahan di fasilitas mereka bahkan setelah berpindah status ke SSW.
Baca juga: Gempa 7.5 Magnitudo Guncang Jepang, Bagaimana Nasib 969 WNI?
Strategi mereka antara lain: menyediakan asrama layak dengan kamar pribadi dan wifi, komunikasi dan perjanjian kerja yang jelas sebelum kedatangan,
pendidikan bahasa Jepang intensif, dukungan penuh untuk sertifikasi perawat, membangun hubungan kerja yang setara, bukan memosisikan tenaga asing sebagai “buruh sementara”.
“Saya memilih tinggal di Yamanashi. Saya sudah nyaman dan merasa dihargai,” ujar salah satu pekerja asing.
Jepang diperkirakan kekurangan ratusan ribu tenaga perawatan lansia hingga 2040. Maka, kehadiran tenaga asing menjadi bagian penting strategi jangka panjang negara tersebut.
Namun tantangan baru muncul: mobilitas tenaga kerja asing semakin tinggi, dan daerah pedesaan kesulitan mempertahankan tenaga yang sudah mereka latih.
“Masa depan sektor ini sangat bergantung pada bagaimana Jepang membangun sistem yang adil, manusiawi, dan berorientasi jangka panjang—baik bagi pekerja asing maupun lansia yang membutuhkan mereka,” tutur pengusaha lembaga keperawatan tersebut.
Diskusi keperawatan di Jepang dibuka gratis oleh Pencinta Jepang. Untuk bergabung, kirimkan nama, alamat, dan nomor WhatsApp ke email: tkyjepang@gmail.com.
Baca tanpa iklan