Beberapa diantara mengungkapkan kekhawatiran bahwa anak-anak mereka akan jatuh sakit atau ketinggalan sekolah.
Korban tewas
Thailand mengerahkan jet tempur F-16 dan tank untuk menyerang Kamboja.
Setidaknya 10 warga sipil Kamboja tewas dan 60 lainnya terluka dalam perang itu.
“Korban termasuk 10 warga sipil yang tewas, termasuk satu bayi, dan 60 warga sipil yang terluka,” kata Wakil Menteri Negara dan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Letnan Jenderal Maly Socheata, dikutip dari Khmer Times kemarin.
Socheata menuduh tentara Thailand terus menerus menembakkan peluru artileri ke banyak lokasi di wilayah Kamboja.
Bangkok Post melaporkan hingga kemarin 10 tentara Thailand tewas akibat perang dengan Kamboja di wilayah perbatasan.
Laksamana Muda Surasant Kongsiri, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailan mengatakan pasukan Kamboja terus melakukan serangan besar-besaran di sepanjang perbatasan, khususnya di provinsi Sa Kaeo.
Pada Jumat pagi, Angkatan Laut Kerajaan Thailand menghancurkan pusat komando Kamboja yang mengarahkan serangan, dan operasi terus berlanjut.
Sempat didamaikan Trump
Perang Thailand dan Kamboja dipicu masalah perbatasan sejak lama.
Dua negara sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata tanpa syarat pada 29 Juli 2025 setelah lima hari pertempuran di perbatasan.
Pertempuran lima hari kala itu mengakibatkan sedikitnya 33 orang tewas dan puluhan ribu warga mengungsi.
Pada 28 Juli 2025, dua negara dimediasi di Putrajaya, Malaysia, oleh PM Malaysia Anwar Ibrahim ASEAN. selaku Ketua ASEAN.
Presiden AS Donald Trump juga telah memediasi kedua belah pihak dan sepakat hentikan perang.
Namun sejak 7 Desember 2025, militer Thailand melancarkan serangan udara ke sasaran militer Kamboja di perbatasan setelah menuduh Kamboja lebih dulu menembak.
Sumber: StraitsTimes/Bangkok Post/Khmer Times
Baca tanpa iklan