Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi duplikasi, memperkuat pembelajaran bersama, serta meningkatkan rasa kepemilikan di tingkat nasional dan regional.
Bagi Asia, khususnya Asia Tenggara yang tengah memperkuat kolaborasi di bidang energi terbarukan, ketahanan pangan, dan adaptasi perubahan iklim, potensi untuk memainkan peran lebih besar dalam kerja sama triangular dinilai sangat signifikan.
“Inovasi dan pengalaman dari kawasan ini sangat diminati oleh wilayah lain, seperti Afrika dan Amerika Latin. Apa yang berkembang di Asia Tenggara berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi kemandirian berkelanjutan negara-negara Global South,” ujar Dima.
Tantangan Pembiayaan dan Arah Strategis UNOSSC
Meski bersifat fleksibel dan dipimpin oleh negara, kerja sama triangular masih menghadapi tantangan dalam hal skalabilitas, terutama dari sisi pembiayaan.
Untuk memperluas dampak, diperlukan investasi yang lebih besar serta keterlibatan mitra yang lebih beragam, termasuk bank pembangunan multilateral dan sektor swasta.
Menjelang penyusunan Kerangka Strategis UNOSSC 2026–2029, Dima menegaskan bahwa UNOSSC akan terus menjalankan mandatnya sebagai fasilitator, advokat, dan promotor kerja sama Selatan–Selatan dan triangular. Kerangka baru tersebut juga akan menekankan penguatan koalisi serta aliansi lintas pemangku kepentingan.
“Pendekatan ini memungkinkan proses pencocokan yang lebih cepat dan terarah antara pihak yang menawarkan solusi dan pihak yang membutuhkan, sekaligus memperkuat kerja sama Selatan–Selatan dan triangular sebagai mekanisme utama pembangunan global,” pungkas Dima.
Baca tanpa iklan