News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Kremlin Tak Mau Eropa Terlibat Pembicaraan soal Perang Rusia-Ukraina

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PUTIN - Foto diunduh dari Kantor Presiden Rusia, Selasa (23/9/2025), memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke Pabrik Motovilikha pada 19 September 2025. -- Pada 16 Desember 2025, Kremlin menolak partisipasi Eropa dalam pembicaraan soal upaya untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, termasuk soal jaminan keamanan.

Ringkasan Berita:

  • Rusia menentang partisipasi negara-negara Eropa dalam pembicaraan untuk negosiasi damai dalam perang Rusia-Ukraina.
  • Kremlin ingin mengetahui hasil pertemuan Presiden Ukraina Zelenskyy dengan perwakilan AS dan Eropa sebelum melanjutkan putaran negosiasi dengan Rusia.
  • Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1393 ketika Eropa mendukung jaminan keamanan untuk Ukraina.

TRIBUNNEWS.COM - Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan Rusia menentang partisipasi Eropa dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang Rusia dan Ukraina berdasarkan proposal yang diajukan AS. 

“Partisipasi Eropa, dalam hal penerimaan, bukanlah pertanda baik,” kata Dmitry Peskov, Selasa (16/12/2025), seperti diberitakan Izvestia.

Ia juga mengatakan Rusia belum diberitahu tentang hasil pembicaraan terbaru antara Zelenskyy dan para pemimpin Eropa yang dilaksanakan di Berlin, Jerman pada hari Senin (15/12/2025).

Sebelum putaran pembicaraan baru antara Rusia dan Amerika Serikat dapat berlangsung, Rusia perlu memahami hasil konsultasi yang diadakan oleh AS, Ukraina, dan negara-negara Eropa di Berlin pada 14-15 Desember 2025.

"Pertama-tama kita perlu melihat apa yang dihasilkan dari pembicaraan yang dilakukan Amerika dengan Ukraina dengan partisipasi Eropa," kata Dmitry Peskov, ketika ditanya kapan putaran negosiasi Rusia-AS berikutnya dapat diharapkan, dikutip dari Pravda.

Perwakilan Ukraina termasuk Presidennya, Volodymyr Zelenskyy, bertemu dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan timnya serta para pemimpin Eropa di Berlin pada hari Minggu dan Senin.

Pertemuan itu membahas proposal perdamaian yang diajukan AS dan upaya untuk mengakhiri perang Rusia dan Ukraina.

Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1393 pada Rabu (17/12/2025), menandai berlanjutnya konflik panjang yang berawal dari invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022.

Perang Rusia–Ukraina berakar dari perubahan geopolitik pascaruntuhnya Uni Soviet, ketika Ukraina memilih mendekat ke Barat melalui keinginannya bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, yang dipandang Rusia sebagai ancaman. 

Baca juga: Ukraina Dukung Gagasan Gencatan Senjata Natal dengan Rusia, Zelensky: Tergantung Moskow

Ketegangan meningkat setelah Revolusi Maidan 2014, aneksasi Krimea, dan konflik di Donbas. 

Berbagai upaya diplomasi gagal meredakan situasi hingga Rusia melancarkan invasi penuh pada 24 Februari 2022, yang kemudian memicu kecaman internasional serta sanksi Barat dan dukungan militer besar bagi Ukraina.

Sejak dimulai tiga tahun lalu, perang kedua negara itu mengalami berbagai perkembangan, berikut ini kumpulan berita terbaru mengenai perang Rusia dan Ukraina.

  • Jerman Dukung Ukraina Soal Jaminan Keamanan

Kanselir Jerman Friedrich Merz mendukung Ukraina agar mendapatkan jaminan keamanan dari Eropa dan Amerika Serikat (AS) jika gencatan senjata dengan Rusia tercapai.

"Di bawah jaminan pasca-gencatan senjata yang diberikan oleh Amerika Serikat dan Eropa kepada Ukraina, pasukan penjaga perdamaian dalam keadaan tertentu dapat memukul mundur pasukan Rusia," kata Kanselir Jerman Friedrich Merz kepada televisi publik ZDF pada hari Selasa (16/12/2025).

Ia mengatakan ini masih merupakan prospek yang jauh. 

Ketika didesak oleh pewawancara untuk memberikan rincian tentang kemungkinan jaminan keamanan yang diusulkan oleh AS dalam pembicaraan Berlin pada hari Senin dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Friedrich Merz mengatakan para penjamin perlu memukul mundur pasukan Rusia jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan gencatan senjata apa pun.

“Kami akan mengamankan zona demiliterisasi di antara pihak-pihak yang bertikai dan, secara lebih spesifik, kami juga akan bertindak melawan serangan dan invasi Rusia yang terkait. Kami belum sampai di sana,” kata Friedrich Merz. 

“Fakta bahwa Amerika telah membuat komitmen seperti itu – untuk melindungi Ukraina jika terjadi gencatan senjata seolah-olah itu adalah wilayah NATO – saya pikir itu adalah posisi baru yang luar biasa bagi Amerika Serikat,” lanjutnya, dikutip dari The Guardian.

Kremlin berulang kali menegaskan bahwa Rusia menolak jaminan keamanan yang memfasilitasi penempatan pasukan negara anggota NATO di Ukraina.

  • Zelenskyy Sebut Proposal Perdamaian Segera Diselesaikan

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan proposal yang dinegosiasikan dengan pejabat AS mengenai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina dapat segera diselesaikan, setelah itu utusan Amerika akan menyampaikannya kepada Rusia.

Setelah dua hari pembicaraan di Berlin pada 14-15 Desember, pejabat AS mengatakan mereka telah menyelesaikan 90 persen dari masalah-masalah yang ada antara Rusia dan Ukraina.

Namun di sisi lain, belum jelas apakah akhir perang semakin dekat, terutama karena pihak Rusia tidak hadir dalam pembicaraan saat ini.

  • Rusia Rebut Sejumlah Wilayah di Donetsk

DeepState, sebuah kelompok analis militer Ukraina, melaporkan bahwa pasukan Rusia telah merebut Serebrianka di Oblast Donetsk dan maju mendekati empat permukiman lainnya.

"Musuh telah merebut Serebrianka dan juga maju di dekat Dronivka, Sviato-Pokrovske, Zvanivka dan Pazeno, serta di Siversk dan Pereizne," menurut laporan DeepState.

Sebelumnya pada 13 Desember, wilayah Siversk hampir sepenuhnya jatuh dan pasukan cadangan akan dibutuhkan untuk merebut kembali kendali atas kota tersebut.

  • Afrika Selatan Berupaya Pulangkan 17 Warganya yang "Ditipu" untuk Perang

Pemerintah Afrika Selatan sedang bernegosiasi dengan Rusia untuk memulangkan 17 pria Afrika Selatan yang bertempur untuk Rusia di Ukraina.

Upaya tersebut dilakukan setelah para pria tersebut diduga dibujuk untuk bekerja tetapi akhirnya ikut berperang bersama pasukan Rusia.

Bulan lalu, polisi Afrika Selatan meluncurkan penyelidikan atas tuduhan bahwa Duduzile Zuma-Sambudla, putri mantan Presiden Jacob Zuma, membujuk 17 warga Afrika Selatan untuk berperang bersama Rusia dalam perang yang sedang berlangsung.

Menurut laporan, pria berusia antara 20 dan 39 tahun dibujuk untuk datang ke Rusia dengan iming-iming peluang kerja, tetapi akhirnya terjebak di garis depan perang yang tidak ingin mereka ikuti.

"Proses evakuasi para pemuda itu tetap sangat sensitif; mereka berada di lingkungan yang berbahaya. Mereka berada dalam bahaya besar kehilangan nyawa, dan kami masih berdiskusi dengan berbagai pihak berwenang di Rusia dan Ukraina untuk melihat bagaimana kami dapat mengeluarkan mereka dari situasi ini," kata juru bicara Kepresidenan Vincent Magwenya dalam sebuah konferensi pers.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini