JAXA menyampaikan bahwa dari hasil analisis awal, terdapat kemungkinan kuat penutup pelindung satelit (fairing) terlepas secara tidak normal selama penerbangan.
Peristiwa ini diyakini memicu penurunan tekanan pada tangki hidrogen mesin tahap kedua.
Dalam rapat subkomite khusus Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang pada Selasa (23/12), JAXA menjelaskan bahwa sejak awal pembakaran mesin tahap kedua, tekanan pada tangki hidrogen turun dan daya dorong mesin tercatat sekitar 20 persen lebih rendah dari nilai yang diharapkan.
Penurunan tekanan tersebut terjadi hampir bersamaan dengan momen pemisahan fairing.
Manajer proyek H3 di JAXA, Makoto Arita, menyatakan, “Sangat mungkin bahwa pemisahan penutup satelit menjadi titik awal rangkaian kejadian yang menyebabkan kegagalan ini.”
Investigasi Menyeluruh Dimulai
Menurut JAXA dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang, mesin tahap kedua—yang berfungsi menempatkan roket ke orbit setelah memasuki ruang angkasa—berhenti lebih awal. Hal inilah yang membuat Michibiki-5 gagal mencapai orbit target.
Ke depan, investigasi menyeluruh akan dilakukan dengan menganalisis rekaman kamera yang terpasang pada roket serta data penurunan tekanan pada tangki hidrogen yang berkaitan dengan pergerakan mesin tahap kedua.
Hasil investigasi akan menjadi dasar penyesuaian teknis dan penjadwalan ulang misi berikutnya.
Riwayat Penundaan dan Rekam Jejak H3
Sebelumnya, peluncuran H3 penerbangan ke-8 dijadwalkan pada 7 Desember 2025, namun ditunda ke 17 Desember setelah ditemukan masalah pada perangkat pemandu tahap kedua.
Pada hari penjadwalan ulang tersebut, sistem pendingin darat mendeteksi anomali sehingga peluncuran dihentikan sekitar 17 detik sebelum lepas landas. JAXA kemudian mengidentifikasi kesalahan pengaturan dan memutuskan meluncurkan kembali roket pada 22 Desember.
H3 merupakan roket andalan generasi terbaru Jepang, penerus H-2A yang mencatat tingkat keberhasilan hingga 98 persen.
Namun, pada peluncuran perdananya Maret 2023, H3 juga mengalami kegagalan akibat mesin tahap kedua tidak menyala.
Setelah itu, lima penerbangan berturut-turut berhasil, sehingga kegagalan kali ini menjadi yang kedua dan dinilai sebagai pukulan besar bagi program antariksa Jepang.
Dampak terhadap Program Navigasi Nasional
Baca tanpa iklan