News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Roket H3 Jepang Gagal Mengorbit, Penutup Pelindung Satelit Diduga Terlepas

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GAGAL MENGORBIT - Roket H3 yang membawa satelit kuasi-zenit Michibiki No. 5  yang gagal diluncurkan dari Pusat Luar Angkasa Tanegashima di Minamitane-cho, Prefektur Kagoshima, Jepang, Senin, 22 Desember 2025 pukul 10:51 waktu setempat.

Ringkasan Berita:

  • JAXA mengumumkan kegagalan peluncuran roket H3 penerbangan ke-8 yang dilakukan pada Senin (22/12/2025) pukul 10.50 pagi waktu setempat. 
  • Mesin tahap kedua yang berfungsi menempatkan roket ke orbit setelah memasuki ruang angkasa, berhenti lebih awal. 
  • H3 membawa satelit Michibiki-5, bagian dari sistem navigasi Jepang Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) yang kerap disebut sebagai “GPS versi Jepang.”

 

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Badan Antariksa Jepang Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) mengumumkan kegagalan peluncuran roket H3 penerbangan ke-8 yang dilakukan pada Senin (22/12/2025) pukul 10.50 waktu setempat dari Tanegashima Space Center, Prefektur Kagoshima.

Kegagalan terjadi akibat pembakaran mesin tahap kedua yang berhenti lebih cepat dari jadwal. Akibat anomali tersebut, satelit navigasi Michibiki-5 tidak berhasil dimasukkan ke orbit yang telah direncanakan.

Dalam misi ini, roket H3 membawa satelit Michibiki-5, bagian dari sistem navigasi Jepang Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) yang kerap disebut sebagai “GPS versi Jepang”. Sesuai rencana, satelit seharusnya mencapai orbit sekitar 30 menit setelah peluncuran, namun gangguan pada tahap kedua menggagalkan seluruh misi.

Dugaan Awal Pemisahan Fairing Tidak Normal

JAXA menyampaikan, berdasar hasil analisis awal, terdapat kemungkinan kuat penutup pelindung satelit (fairing) terlepas secara tidak normal selama penerbangan. Peristiwa ini diyakini memicu penurunan tekanan pada tangki hidrogen mesin tahap kedua.

Dalam rapat subkomite khusus Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang pada Selasa (23/12/2025), JAXA menjelaskan bahwa sejak awal pembakaran mesin tahap kedua, tekanan pada tangki hidrogen turun dan daya dorong mesin tercatat sekitar 20 persen lebih rendah dari nilai yang diharapkan. Penurunan tekanan tersebut terjadi hampir bersamaan dengan momen pemisahan fairing.

Manajer proyek H3 di JAXA, Makoto Arita, menyatakan, “Sangat mungkin bahwa pemisahan penutup satelit menjadi titik awal rangkaian kejadian yang menyebabkan kegagalan ini.”

Investigasi Menyeluruh Dimulai

Menurut JAXA dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang, mesin tahap kedua yang berfungsi menempatkan roket ke orbit setelah memasuki ruang angkasa, berhenti lebih awal.

Baca juga: Penampakan Kosmodrom Baikonur Rusia di Kazakhstan Hangus Setelah Peluncuran Roket Soyuz

Hal inilah yang membuat Michibiki-5 gagal mencapai orbit target.

Ke depan, investigasi menyeluruh akan dilakukan dengan menganalisis rekaman kamera yang terpasang pada roket serta data penurunan tekanan pada tangki hidrogen yang berkaitan dengan pergerakan mesin tahap kedua. Hasil investigasi akan menjadi dasar penyesuaian teknis dan penjadwalan ulang misi berikutnya.

Riwayat Penundaan dan Rekam Jejak H3

Sebelumnya, peluncuran H3 penerbangan ke-8 dijadwalkan pada 7 Desember 2025, namun ditunda ke tanggal 17 Desember setelah ditemukan masalah pada perangkat pemandu tahap kedua. 

Pada hari penjadwalan ulang tersebut, sistem pendingin darat mendeteksi anomali sehingga peluncuran dihentikan sekitar 17 detik sebelum lepas landas. JAXA kemudian mengidentifikasi kesalahan pengaturan dan memutuskan meluncurkan kembali roket pada 22 Desember.

Baca juga: Telkomsat dan Space42 PLC Jajaki Pengembangan Konektivitas Berbasis Satelit

H3 merupakan roket andalan generasi terbaru Jepang, penerus H-2A yang mencatat tingkat keberhasilan hingga 98 persen. Namun, pada peluncuran perdananya Maret 2023, H3 juga mengalami kegagalan akibat mesin tahap kedua tidak menyala. Setelah itu, lima penerbangan berturut-turut berhasil, sehingga kegagalan kali ini menjadi kegagalan yang kedua dan dinilai sebagai pukulan besar bagi program antariksa Jepang.

Dampak terhadap Program Navigasi Nasional

Satelit Michibiki digunakan untuk mendukung navigasi kendaraan, pesawat, hingga ponsel pintar di Jepang. Hingga kini, Jepang telah menempatkan enam satelit Michibiki di orbit, termasuk satelit ke-6 yang diluncurkan pada Februari 2025.

Pemerintah menargetkan peluncuran satelit ke-7 pada Februari 2026 untuk membentuk konstelasi tujuh satelit agar Jepang dapat menyediakan layanan navigasi mandiri tanpa bergantung pada sistem negara lain.

Namun, dengan kegagalan H3 penerbangan ke-8, penundaan jadwal pengembangan sistem navigasi nasional Jepang dinilai sulit dihindari, setidaknya hingga hasil investigasi rampung dan perbaikan teknis dilakukan.

Biaya dan Dampak Reputasi

Kegagalan ini kembali menyorot besarnya biaya program antariksa Jepang. Berdasarkan penjelasan resmi sebelumnya dari JAXA, biaya satu kali peluncuran H3 diperkirakan mencapai 5–6 miliar yen (sekitar Rp500–600 miliar).

Sementara itu, biaya satu unit satelit Michibiki diperkirakan berada di kisaran 40–60 miliar yen (sekitar Rp4–6 triliun), tergantung generasi dan instrumen yang dibawa.

Selain itu, biaya riset dan pengembangan (R&D) H3 sejak awal proyek ditaksir mencapai sekitar 200 miliar yen, mencakup pengembangan mesin utama LE-9, sistem avionik, hingga infrastruktur darat di Tanegashima Space Center.

Pengamat menilai, di luar kerugian langsung, kegagalan ini juga membawa biaya tak kasat mata berupa penundaan jadwal, uji ulang, serta dampak reputasi Jepang di pasar peluncuran global.
Gagalnya Peluncuran Roket H3 Penerbangan ke-8, Satelit Michibiki-5 Gagal Masuk Orbit

Badan Antariksa Jepang Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) mengumumkan kegagalan peluncuran roket H3 penerbangan ke-8 yang dilakukan pada Senin (22/12/2025) pukul 10.50 waktu setempat dari Tanegashima Space Center, Prefektur Kagoshima.

Kegagalan terjadi akibat pembakaran mesin tahap kedua yang berhenti lebih cepat dari jadwal. Akibat anomali tersebut, satelit navigasi Michibiki-5 tidak berhasil dimasukkan ke orbit yang telah direncanakan.

Dalam misi ini, roket H3 membawa satelit Michibiki-5, bagian dari sistem navigasi Jepang Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) yang kerap disebut sebagai “GPS versi Jepang”.

Sesuai rencana, satelit seharusnya mencapai orbit sekitar 30 menit setelah peluncuran, namun gangguan pada tahap kedua menggagalkan seluruh misi.

Dugaan Awal: Pemisahan Fairing Tidak Normal

JAXA menyampaikan bahwa dari hasil analisis awal, terdapat kemungkinan kuat penutup pelindung satelit (fairing) terlepas secara tidak normal selama penerbangan.

Peristiwa ini diyakini memicu penurunan tekanan pada tangki hidrogen mesin tahap kedua.

Dalam rapat subkomite khusus Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang pada Selasa (23/12), JAXA menjelaskan bahwa sejak awal pembakaran mesin tahap kedua, tekanan pada tangki hidrogen turun dan daya dorong mesin tercatat sekitar 20 persen lebih rendah dari nilai yang diharapkan.

Penurunan tekanan tersebut terjadi hampir bersamaan dengan momen pemisahan fairing.

Manajer proyek H3 di JAXA, Makoto Arita, menyatakan, “Sangat mungkin bahwa pemisahan penutup satelit menjadi titik awal rangkaian kejadian yang menyebabkan kegagalan ini.”

Investigasi Menyeluruh Dimulai

Menurut JAXA dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang, mesin tahap kedua—yang berfungsi menempatkan roket ke orbit setelah memasuki ruang angkasa—berhenti lebih awal. Hal inilah yang membuat Michibiki-5 gagal mencapai orbit target.

Ke depan, investigasi menyeluruh akan dilakukan dengan menganalisis rekaman kamera yang terpasang pada roket serta data penurunan tekanan pada tangki hidrogen yang berkaitan dengan pergerakan mesin tahap kedua.

Hasil investigasi akan menjadi dasar penyesuaian teknis dan penjadwalan ulang misi berikutnya.

Riwayat Penundaan dan Rekam Jejak H3

Sebelumnya, peluncuran H3 penerbangan ke-8 dijadwalkan pada 7 Desember 2025, namun ditunda ke 17 Desember setelah ditemukan masalah pada perangkat pemandu tahap kedua.

Pada hari penjadwalan ulang tersebut, sistem pendingin darat mendeteksi anomali sehingga peluncuran dihentikan sekitar 17 detik sebelum lepas landas. JAXA kemudian mengidentifikasi kesalahan pengaturan dan memutuskan meluncurkan kembali roket pada 22 Desember.

H3 merupakan roket andalan generasi terbaru Jepang, penerus H-2A yang mencatat tingkat keberhasilan hingga 98 persen.

Namun, pada peluncuran perdananya Maret 2023, H3 juga mengalami kegagalan akibat mesin tahap kedua tidak menyala.

Setelah itu, lima penerbangan berturut-turut berhasil, sehingga kegagalan kali ini menjadi yang kedua dan dinilai sebagai pukulan besar bagi program antariksa Jepang.

Dampak terhadap Program Navigasi Nasional

Satelit Michibiki digunakan untuk mendukung navigasi kendaraan, pesawat, hingga ponsel pintar di Jepang. Hingga kini, Jepang telah menempatkan enam satelit Michibiki di orbit, termasuk satelit ke-6 yang diluncurkan pada Februari 2025.

Pemerintah menargetkan peluncuran satelit ke-7 pada Februari 2026 untuk membentuk konstelasi tujuh satelit agar Jepang dapat menyediakan layanan navigasi mandiri tanpa bergantung pada sistem negara lain.

Namun, dengan kegagalan H3 penerbangan ke-8, penundaan jadwal pengembangan sistem navigasi nasional Jepang dinilai sulit dihindari, setidaknya hingga hasil investigasi rampung dan perbaikan teknis dilakukan.

Biaya dan Dampak Reputasi

Kegagalan ini kembali menyorot besarnya biaya program antariksa Jepang. Berdasarkan penjelasan resmi sebelumnya dari JAXA, biaya satu kali peluncuran H3 diperkirakan mencapai 5–6 miliar yen (sekitar Rp500–600 miliar).

Sementara itu, biaya satu unit satelit Michibiki diperkirakan berada di kisaran 40–60 miliar yen (sekitar Rp4–6 triliun), tergantung generasi dan instrumen yang dibawa.

Selain itu, biaya riset dan pengembangan (R&D) H3 sejak awal proyek ditaksir mencapai sekitar 200 miliar yen, mencakup pengembangan mesin utama LE-9 buatan Mitsubishi Heavy Industries, sistem avionik, hingga infrastruktur darat di Tanegashima Space Center.

Pengamat menilai, di luar kerugian langsung, kegagalan ini juga membawa biaya tak kasat mata berupa penundaan jadwal, uji ulang, serta dampak reputasi Jepang di pasar peluncuran global.

Pemerintah Jepang Minta Maaf

Menanggapi kegagalan tersebut, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang, Yohei Matsumoto, menyampaikan permohonan maaf kepada publik.

“Kami benar-benar menyesal tidak dapat memenuhi harapan dan dukungan besar yang telah diberikan. Kami akan melakukan yang terbaik bersama organisasi terkait untuk memulihkan kepercayaan terhadap roket H3, baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

Diskusi  roket di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini