News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Picu Polemik, Klaim Raja Charles Bisa Bantu AS Serang Iran

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Nanda Lusiana Saputri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu sorotan lewat pernyataannya yang mengklaim Charles III “mungkin akan membantu” AS dalam menghadapi Iran.

Pernyataan ini muncul di tengah kunjungan Raja Charles ke Amerika Serikat, yang sebelumnya diharapkan dapat memperkuat hubungan bilateral kedua negara.

Dalam keterangannya, Trump menyebut Raja Charles sebagai sosok “fantastis” dan “teman baik”.

Namun, ia juga menambahkan jika raja memiliki kewenangan penuh, maka Inggris kemungkinan akan membantu AS dalam konflik dengan Iran.

"Jika Raja Charles memiliki kewenangan penuh dalam dunia politik, maka Inggris kemungkinan akan membantu AS dalam konflik dengan Iran," ujar Trump dikutip dari Politico.

Pernyataan tersebut sontak memicu sorotan karena dinilai sensitif, dan melanggar batas norma diplomatik dan tradisi politik Inggris.

Mengingat dalam sistem monarki konstitusional yang dianut Inggris, raja memiliki peran simbolis sebagai kepala negara dan tidak terlibat dalam pengambilan keputusan politik maupun militer.

Karena itu, pernyataan Trump yang menyiratkan kemungkinan dukungan Raja Charles terhadap langkah militer AS dianggap melanggar batas norma diplomatik dan tradisi politik Inggris.

Selain itu, komentar Trump juga dianggap membuka kembali ketegangan dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang sebelumnya telah menunjukkan perbedaan sikap terkait konflik Iran.

Sejumlah pengamat menilai, pernyataan ini dapat menempatkan Raja Charles dalam posisi yang tidak nyaman, karena berpotensi menimbulkan persepsi publik istana ikut terlibat dalam dinamika politik global.

Padahal, netralitas kerajaan merupakan prinsip utama yang dijaga untuk mempertahankan stabilitas institusi monarki.

Hubungan AS–Inggris Kembali Diuji

Di sisi lain, pernyataan Trump juga berpotensi memperkeruh hubungan dengan pemerintahan Inggris yang dipimpin Keir Starmer.

Starmer sebelumnya telah mengambil sikap hati-hati terkait konflik Iran dan menolak tekanan untuk terlibat dalam eskalasi militer. 

Perbedaan pendekatan ini memperlihatkan adanya jarak dalam kebijakan luar negeri antara kedua sekutu.

Baca juga: Rusia Cari Celah di Tengah Perang AS-Iran, Mengapa Putin Menginginkan Uranium Iran?

Situasi ini menunjukkan dinamika hubungan internasional semakin sensitif, terutama ketika pernyataan politik menyentuh simbol negara lain. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini