TRIBUNNEWS.COM – Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengonfirmasi kematian juru bicaranya sekaligus memperkenalkan juru bicara baru pada Senin (29/12/2025).
Dalam pidato yang direkam sebelumnya dan disiarkan melalui media Arab, juru bicara baru tersebut mengungkapkan bahwa pendahulunya, yang dikenal dengan nama samaran Abu Obeida, bernama asli Huthaifa Samir al-Kahlout.
Mengutip Middle East Eye, juru bicara baru tersebut, yang identitas aslinya tidak diungkap, juga menggunakan nama samaran Abu Obeida.
Ini menjadi kali pertama Hamas secara resmi mengonfirmasi identitas al-Kahlout, yang selama lebih dari dua dekade menjabat sebagai juru bicara Brigade al-Qassam tanpa pernah memperlihatkan wajahnya kepada publik.
“Kami berduka atas pemimpin besar Huthaifa Samir al-Kahlout, Abu Ibrahim, kepala aparat media al-Qassam, yang gugur setelah dua dekade menggagalkan musuh dan membangkitkan semangat kaum beriman,” ujar Abu Obeida yang baru dalam pernyataannya.
“Kami memberi penghormatan kepada pria dengan keffiyeh merah, suara lantang bangsa, Abu Obeida, yang tidak pernah meninggalkan rakyatnya di masa-masa tergelap dan selalu berbicara dari jantung pertempuran.”
Juru bicara baru tersebut juga mengonfirmasi bahwa Mohammed al-Sinwar, mantan komandan Brigade Izzuddin al-Qassam, tewas dalam serangan Israel pada Mei lalu.
Ia menambahkan bahwa sejumlah pemimpin militer senior Hamas lainnya juga telah tewas, termasuk Raed Saad, yang dilaporkan meninggal dunia awal bulan ini.
Kahlout diketahui menjabat sebagai juru bicara sayap militer Hamas selama lebih dari 20 tahun.
Selama itu, ia selalu tampil dengan wajah tertutup keffiyeh, sehingga kehidupan pribadinya nyaris tidak pernah diketahui publik.
Ia dikenal luas melalui pidato-pidatonya di televisi.
Ia menyampaikan perkembangan medan tempur, mengklaim keberhasilan militer Hamas, serta melontarkan kecaman terhadap Israel.
Baca juga: Perjalanan Abu Obaida, Juru Bicara Hamas sejak 2007 hingga Kematiannya
Sebagai salah satu figur paling menonjol dalam Hamas, Kahlout meraih popularitas luas di dunia Arab.
Sosoknya kerap dijadikan simbol perlawanan, dengan gaya penampilan dan ucapannya yang banyak ditiru dalam demonstrasi maupun karya budaya.
Popularitasnya meningkat tajam setelah serangan mendadak Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 dan perang besar yang menyusul di Jalur Gaza.
Baca tanpa iklan