TRIBUNNEWS.COM, CHINA - Di penghujung tahun 2025, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pentagon mulai mengkhawatirkan kemampuan alat utama sistem pertahanan China (Tiongkok) yang terus berkembang.
Terutama kemampuan China yang terus memperkuat nuklir dan rudal konvensional jarak jauhnya.
Dalam laporannya tentang kekuatan militer Tiongkok yang dirilis pada Selasa (30/12/2025), Pentagon mengatakan bahwa peningkatan kekuatan militer negara itu membuat wilayah AS semakin rentan.
Kementerian Pertahanan Tiongkok mengatakan dengan tegas mengejar kebijakan pertahanan nasional yang defensif sambil memajukan modernisasi militer yang disebutnya "kualitas tinggi" untuk melindungi kedaulatan nasional, keamanan, dan kepentingan pembangunan.
Mengapa Ini Penting
Rudal memainkan peran kunci dalam strategi Tiongkok untuk melawan intervensi AS jika terjadi konflik di Pasifik barat, termasuk di sekitar Taiwan.
Kekuatan rudal China merupakan bagian dari tujuan ambisius yang digariskan oleh Presiden China Xi Jinping, yang bertujuan untuk membangun militer "kelas dunia" pada tahun 2049.
Menurut Pentagon, Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA, adalah komponen kunci dari upaya kekuatan Asia Timur tersebut untuk menggantikan AS sebagai negara terkuat di dunia.
Rincian kekuatan Rudal PLA
Pentagon merinci susunan kekuatan rudal PLA dalam laporannya yakni :
- Peluncur untuk rudal balistik antarbenua (ICBM)
- Rudal balistik jarak menengah (IRBM)
- Rudal balistik jarak menengah (MRBM)
- Rudal balistik jarak pendek (SRBM)
- Rudal jelajah yang diluncurkan dari darat (GLCM).
Armada rudal balistik antarbenua (ICBM) Tiongkok, yang diperkirakan memiliki jangkauan lebih dari 3.417 mil
Armada ini bisa membawa hulu ledak nuklir dan juga dapat melakukan serangan konvensional terdiri dari 400 rudal dan 550 peluncur.
Meskipun jumlah rudal tetap sama seperti dalam laporan Pentagon tahun lalu, Tiongkok telah menambahkan 50 peluncur ICBM dalam setahun.
Armada IRBM China, yang mampu menyerang target antara 1.864 dan 3.417 mil, telah menambah 50 rudal dan 50 peluncur sehingga totalnya menjadi 550 rudal dan 300 peluncur.
Tidak seperti ICBM-nya yang memiliki berbagai jenis, China hanya memiliki satu IRBM yaitu CSS-18, yang dikenal sebagai DF-26—senjata teater yang sangat presisi.
DF-26 dirancang untuk "dengan cepat mengganti" hulu ledak konvensional dan nuklir untuk serangan darat presisi dan serangan anti-kapal di seluruh Pasifik barat, Samudra Hindia, dan Laut Cina Selatan dari daratan Cina, kata Pentagon dalam laporan tahun lalu.
Rudal balistik jarak menengah (IRBM) buatan China ini menimbulkan ancaman signifikan terhadap kemampuan militer AS untuk memproyeksikan kekuatan di dekat China dari Guam, sebuah pos militer utama .
Baca tanpa iklan