TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan salah satu drone yang diduga diluncurkan oleh Ukraina mengarah ke kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin membawa muatan bahan peledak berkekuatan tinggi.
Pernyataan itu disampaikan setelah Moskow merilis video dan puing-puing pesawat tak berawak atau drone yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia.
Menurut laporan resmi Kementerian Pertahanan Rusia, drone yang diduga milik militer Ukraina itu menyerang kediaman Putin dengan terbang ke utara menuju Novgorod melalui Bryansk, Smolensk, dan Tver dengan membawa muatan bahan peledak berkekuatan tinggi seberat enam kilogram.
Akan tetapi, sistem pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh 49 drone di atas Wilayah Bryansk, satu di atas wilayah Smolensk dan 41 lainnya di atas wilayah Novgorod.
Dalam cuplikan video tersebut terlihat pecahan drone yang digunakan Ukraina merupakan varian UAV Chaklun-V yang dimodifikasi untuk misi serangan jarak jauh.
“Sebagai hasil analisis terhadap drone Ukraina yang berhasil dijatuhkan, ditemukan salah satu modifikasi Chaklun-V dengan hulu ledak bahan peledak tinggi seberat enam kilogram,” ujar seorang tentara dalam video yang dirilis kementerian, mengutip Reuters.
"Hulu ledak UAV yang belum meledak itu diisi dengan sejumlah besar elemen penyerang dan dimaksudkan untuk melenyapkan personel dan target sipil,” imbuh prajurit Rusia dalam video tersebut.
Kekuatan Drone Ukraina
Chaklun-V sendiri dikenal sebagai pesawat nirawak taktis berukuran relatif kecil yang awalnya dirancang untuk misi pengintaian dan pemantauan medan tempur.
Namun, menurut hasil analisis puing-puing yang dipublikasikan Kementerian Pertahanan Rusia, drone tersebut telah mengalami modifikasi signifikan, terutama pada ruang muatan dan sistem navigasi.
Baca juga: Spesifikasi Rudal Oreshnik Rusia, Senjata Nuklir Tugas Tempur di Perbatasan Negara NATO
Kapasitas angkutnya diklaim mampu membawa bahan peledak berkekuatan tinggi hingga sekitar enam kilogram, memungkinkan drone berfungsi sebagai senjata serang presisi terhadap target bernilai tinggi.
Ledakan sebesar ini diperkirakan mampu merobohkan dinding bata, merusak bangunan satu lantai, menghancurkan kendaraan lapis ringan, serta menimbulkan kerusakan serius pada fasilitas vital seperti pos keamanan, gardu listrik, atau bangunan administratif nonbeton bertulang tebal.
Dalam jarak dekat, daya ledaknya cukup untuk melumpuhkan kendaraan lapis baja ringan, menghancurkan mobil, atau menyebabkan kerusakan fatal pada pesawat kecil, helikopter di darat, serta instalasi radar atau komunikasi.
Meski puluhan drone yang diluncurkan bisa dicegat oleh pertahanan udara Rusia tanpa menimbulkan korban atau kerusakan berarti di lokasi sasaran, serangan drone dengan muatan enam kilogram bahan peledak ini dipandang Rusia sebagai serangan politik dan simbol eskalasi karena diarahkan ke target simbolik seperti kediaman pejabat tinggi negara.
Rusia Operasikan Rudal Nuklir
Setelah kediaman Putin diserang, pemerintah Rusia secara resmi menempatkan sistem rudal hipersonik Oreshnik di Belarus yang terletak di utara Ukraina.
Rekaman resmi yang dirilis kantor berita TASS menunjukkan sistem rudal hipersonik Oreshnik bergerak melalui jalan hutan menuju posisi operasional di wilayah Belarus.
Baca tanpa iklan