TRIBUNNEWS.COM - Presiden Venezuela Nicolas Maduro pernah mengatakan meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat (AS) lantaran Presiden AS Donald Trump ingin mengambil cadangan minyak negara Amerika Selatan tersebut.
Pernyataan Maduro tersebut menggaung sebelum kabar dirinya dan sang istri Cilia Flores ditangkap oleh Delta Force tentara AS, Sabtu (3/1/2025).
Soal penangkapan tersebut dikatakan langsung oleh Presiden AS Donald Trump.
Termasuk menyebut soal AS yang melakukan serangan besar-besaran di Venezuela yang mengakibatkan penangkapan dan pemecatan Presiden Maduro.
Maduro dan istrinya ditangkap dan dikeluarkan dari negara itu setelah operasi penyerangan, dan dalam koordinasi dengan otoritas penegak hukum AS, kata Trump dalam sebuah pernyataan di Truth Social.
Benarkah Trump Mengincar Minyak Venezuela?
Isu mengenai kemungkinan kepentingan AS terhadap minyak Venezuela kembali mencuat seiring pernyataan sejumlah politisi AS yang menyoroti peluang ekonomi di negara Amerika Latin tersebut.
Sebagian pihak di AS bahkan membangun argumen untuk melakukan intervensi di Venezuela dengan alasan membuka kembali industri minyaknya bagi perusahaan Amerika, mengutip BBC, Sabtu (3/1/2025).
Anggota Kongres Partai Republik dari Florida, María Elvira Salazar, secara terbuka menyebut Venezuela sebagai peluang besar bagi sektor energi AS.
Dalam wawancara dengan Fox Business baru-baru ini, Salazar mengatakan Venezuela akan menjadi “hari lapangan” bagi perusahaan minyak Amerika.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan AS dapat masuk untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, mulai dari pipa minyak hingga rig pengeboran dan seluruh fasilitas yang berkaitan dengan produksi serta turunan minyak.
“Perusahaan-perusahaan Amerika dapat masuk dan memperbaiki semua pipa minyak, seluruh rig minyak dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan ... minyak dan turunannya," katanya.
Pernyataan tersebut dinilai sejalan dengan sikap Presiden AS Donald Trump yang selama masa kampanyenya mengusung slogan “drill, baby, drill”.
Trump secara konsisten menyerukan perluasan produksi minyak domestik, kebijakan yang ia klaim dapat menekan harga energi dan menguntungkan konsumen Amerika.
Meski demikian, Gedung Putih menepis anggapan fokus AS terhadap Venezuela semata-mata didorong oleh kepentingan minyak.
Pemerintahan Trump menegaskan perhatian utama mereka adalah isu perdagangan narkoba serta penolakan terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang oleh AS dinilai tidak sah.
Baca tanpa iklan