TRIBUNNEWS.COM - Gelombang protes massal di Iran telah memasuki hari ke-12 berturut-turut pada Kamis malam (8/1/2026).
Demonstrasi yang dipicu oleh krisis ekonomi hebat ini telah meluas ke 31 provinsi di seluruh penjuru Iran dan meningkatkan tekanan signifikan terhadap kepemimpinan politik pemerintahan Ali Khamenei
Aksi ini sendiri dipicu oleh depresiasi mata uang domestik Rial Iran yang menurun drastis serta kemerosotan ekonomi masyarakat Iran secara umum .
Masyarakat kini kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena harga pangan melonjak hingga 70?n harga obat-obatan naik sekitar 50 persen dibanding tahun lalu.
Pemerintah Iran berdalih bahwa krisis ini sebagian besar berada di luar kendali mereka dan menyalahkan sanksi keras negara-negara Barat terkait program nuklir Iran.
Meski telah menghapus subsidi nilai tukar bagi importir untuk memberantas korupsi, langkah tersebut justru memicu lonjakan harga barang konsumsi di pasar.
Menurunnya standar hidup secara drastis ini pun memicu amukan massa di seluruh Iran.
Sayangnya, aksi untuk menyurakan protes kepada pemerintahan Iran ini ditanggapi dengan langkah opresif dan fatal dari Pemerintah Iran.
Berdasarkan laporan organisasi Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia, setidaknya 45 pengunjuk rasa, termasuk delapan anak-anak, telah tewas sejak demonstrasi dimulai akhir Desember lalu.
Rabu lalu (7/1/2026) tercatat sebagai hari paling berdarah dengan 13 korban jiwa dan lebih dari 2.000 warga Iran ditangkap oleh pemerintah.
Namun demikian, media domestik milik pemerintah Iran hanya menyebutkan jumlah korban tewas sebanyak 21 orang, termasuk dari pihak personel keamanan.
Pemutusan Akses Internet dan Telepon
Baca juga: Teheran Kecam Dukungan Trump untuk Demonstran Iran: AS Jangan Ikut Campur Urusan Domestik Kami
Guna memutus rangkaian protes tersebut, berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Iran.
Salah satu di antaranya mematikan akses komunikasi di seluruh Iran sebagai upaya pembatasan penyebaran informasi antar pengunjuk rasa.
Dikutip dari Euronews, Lembaga pemantau kebebasan internet, NetBlocks, bersama perusahaan teknologi CloudFlare, melaporkan adanya pemutusan akses komunikasi secara total di berbagai kota besar di Iran, termasuk di Teheran dan Kermanshah.
Pemutusan akses komunikasi tersebut diduga dilakukan oleh pemerintahan Ali Khamenei dengan mematikan sambungan Internet dan Telepon
Baca tanpa iklan