Mengutip Gulf News, para pengamat pasar memperkirakan rial kehilangan sekitar 45 persen nilainya hanya pada tahun 2025.
Kejadian ini memperpanjang keruntuhan jangka panjang yang secara bertahap mengikis daya beli, tabungan, dan kepercayaan pada sistem keuangan domestik.
Menurut para analis ekonomi menyatakan faktor utama di balik kehancuran nilai tukar rial adalah adanya sanksi AS yang menekan, ketegangan regional, dan inflasi tak terkendali.
Inflasi tahunan mencapai 42,2 persen pada bulan Desember, menurut angka resmi, menjadikannya salah satu tingkat inflasi tertinggi di dunia.
Harga makanan, perumahan, dan barang impor terus meningkat, memperparah tekanan pada rumah tangga dan bisnis.
Bagi para ekonom, arah pergerakan mata uang saat ini bergantung pada apakah Iran dapat menstabilkan inflasi, mengamankan arus masuk devisa yang andal, dan memulihkan kepercayaan terhadap pengelolaan moneter.
Pada saat revolusi Iran tahun 1979, nilai tukar dolar sekitar 70 rial.
Lebih dari empat dekade kemudian, nilai tukar tersebut telah menembus angka 1,4 juta, yang berarti rial telah kehilangan nilai sekitar 20.000 kali lipat.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Kekuatan Militer Iran vs AS - Khamenei Unggah Foto Trump Seperti Firaun
Laju penurunan tersebut tidak linear. Periode relatif tenang diselingi oleh aksi jual besar-besaran, seringkali ketika inflasi meningkat atau akses ke mata uang asing semakin ketat.
Janji Trump ke Warga Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini menyatakan keinginannya untuk "membantu" rakyat Iran.
Padahal kebijakan "tekanan maksimum" yang ia gagas di masa lalu dianggap sebagai akar penyebab krisis ekonomi di negara tersebut.
Sanksi ekonomi yang dijatuhkan Washington telah melumpuhkan berbagai sektor vital di Iran.
Mulai dari kesulitan mengakses obat-obatan esensial hingga meroketnya harga kebutuhan pokok akibat inflasi yang tak terkendali.
Mengutip Al Jazeera, Trump, dalam beberapa pernyataan terbarunya, mengklaim ia memiliki niat baik untuk membantu rakyat Iran keluar dari keterpurukan ekonomi.
Namun, para analis menilai pernyataan tersebut kontradiktif dengan rekam jejaknya.
Di bawah kepemimpinan Trump sebelumnya, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) dan memberlakukan sanksi ekonomi paling berat dalam sejarah terhadap Teheran.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan, namun pada kenyataannya, beban terberat justru dipikul oleh masyarakat kecil.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Baca tanpa iklan