Jassy menekankan bahwa bisnis ritel memiliki ruang gerak yang terbatas. Dengan margin operasi yang relatif tipis, kenaikan biaya impor hingga 10 persen atau lebih tidak mudah diserap sepenuhnya oleh perusahaan.
“Bisnis ritel umumnya hanya memiliki margin satu digit menengah. Jika biaya naik signifikan, pilihannya sangat terbatas,” jelasnya.
Tarif Trump Picu Dampak Luas
Peringatan mengenai dampak kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak hanya datang dari pelaku usaha, tetapi juga ditegaskan oleh asosiasi perdagangan ritel besar di AS.
Sejak pertengahan tahun lalu, asosiasi tersebut telah mengingatkan bahwa perang dagang berpotensi mengganggu rantai pasok global yang selama ini menopang sektor ritel dan e-commerce.
Kekhawatiran itu kini mulai terlihat nyata. Seiring berjalannya waktu, biaya impor yang meningkat akibat tarif membuat banyak pedagang menghadapi tekanan margin yang semakin sempit.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan ritel dan platform e-commerce cenderung menahan pemesanan barang, mengurangi volume impor, atau mencari pemasok alternatif yang belum tentu stabil.
Akibatnya, konsumen berisiko menghadapi keterbatasan pilihan produk, keterlambatan pengiriman, serta harga yang lebih fluktuatif di platform e-commerce.
Di sisi konsumen, perubahan perilaku belanja diperkirakan akan semakin menguat. Seiring harga naik, konsumen AS cenderung lebih selektif, beralih ke produk murah, merek generik, atau menunda pembelian barang non-esensial.
Tren ini dapat menekan penjualan produk premium dan berdampak langsung pada kategori barang bernilai tinggi yang selama ini menyumbang margin besar bagi penjual online.
Tekanan biaya juga berpotensi merambat ke sektor ketenagakerjaan. Jika volume penjualan melambat dan biaya operasional meningkat, perusahaan e-commerce dan mitra logistiknya bisa melakukan efisiensi.
Termasuk pemangkasan tenaga kerja di gudang, distribusi, hingga layanan pelanggan. Asosiasi perdagangan menilai risiko ini nyata jika perang tarif berlangsung lebih lama.
Secara keseluruhan, eskalasi tarif impor memperlihatkan bahwa dampaknya tidak berhenti pada perdagangan internasional semata.
Kebijakan tersebut mulai mengubah ekosistem e-commerce domestik AS, menekan pelaku usaha, mempengaruhi daya beli konsumen, serta berpotensi memperlambat pertumbuhan sektor digital yang selama ini menjadi motor utama ekonomi ritel Amerika.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan