TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia kembali merangkak naik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman terbaru terhadap Iran, salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Maret naik 35 sen atau 0,55 persen, menjadi 64,41 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat (23/1/2026).
Kenaikan serupa juga terjadi untuk Minyak mentah West Texas Intermediate AS yang terseret naik 33 sen, atau 0,56 persen, menjadi 59,69 dolar AS per barel.
Melesat tajam jika dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya, dimana harga WTI dan Brent sempat anjlok sekitar 2 persen akibat meredanya kekhawatiran pasar terhadap ketidakstabilan geopolitik.
Namun belakangan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencuat, Investor menilai bahwa potensi konflik militer di kawasan Timur Tengah dapat mengganggu produksi dan distribusi minyak, sehingga mendorong harga naik.
Konflik AS VS Iran Jadi pemicu
Adapun peningkatan harga ini terjadi menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump kepada awak media di pesawat Air Force One, di mana ia menyebut bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan sebuah armada militer menuju Iran.
Meskipun Trump menekankan bahwa kekuatan militer tersebut tidak akan digunakan kecuali diperlukan, pasar langsung merespons dengan menaikkan harga minyak.
Investor menafsirkan langkah ini sebagai indikasi bahwa risiko gangguan pasokan minyak dari salah satu produsen terbesar dunia meningkat.
Ketegangan semakin nyata karena sejumlah kapal perang AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal penghancur, telah bergerak menuju kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Iran Soroti Pembentukan Dewan Perdamaian Gaza: Kami Pihak yang Tidak Mengakui Rezim Zionis Israel
Pengerahan militer ini dipandang sebagai sinyal serius oleh pasar global bahwa potensi eskalasi konflik tidak bisa diabaikan, meskipun Trump berharap tidak terjadi konfrontasi langsung.
Akan tetapi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengaku bahwa angkatan bersenjatanya akan membalas semua tindakan yang dilakukan AS.
Hal ini dilaporkan dalam sumber utama "Fox News" beberapa waktu lalu. Dalam pernyataannya, Araghchi mengatakan bahwa Iran sebelumnya memilih menahan diri pada Juni 2025.
Namun, ia juga menegaskan bahwa saat ini angkatan bersenjata negaranya tidak akan ragu membalas dengan seluruh kemampuan yang dimiliki jika kembali diserang.
“Tidak seperti sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, kini angkatan bersenjata kita yang kuat tidak ragu untuk membalas dengan semua yang kita miliki jika kita diserang lagi,” kata Araghchi.
Ketegangan ini yang memicu gejolak pada harga minyak, para analis energi menekankan bahwa harga minyak sangat sensitif terhadap risiko geopolitik di kawasan penghasil minyak utama.
Baca tanpa iklan