Ringkasan Berita:
- Iran saat ini tengah mempersiapkan langkah-langkah guna menghadapi perang total dengan "armada raksasa" Amerika Serikat (AS).
- Teheran memberikan pesan yang sangat tegas bahwa mereka tidak lagi mempersiapkan diri untuk meja runding, melainkan untuk perang.
- Otoritas Iran menyatakan bahwa seluruh elemen pertahanan negara berada dalam status siaga tinggi untuk menangkal segala bentuk provokasi militer Washington yang kian nyata.
TRIBUNNEWS.COM - Otoritas Iran telah memberikan sinyal bahwa mereka telah siap untuk menghadapi "armada raksasa" Amerika Serikat (AS).
Teheran memberikan pesan yang sangat tegas bahwa mereka tidak lagi mempersiapkan diri untuk meja runding, melainkan untuk perang.
Otoritas Iran menyatakan bahwa seluruh elemen pertahanan negara berada dalam status siaga tinggi untuk menangkal segala bentuk provokasi militer Washington yang kian nyata.
Sebelumnya, AS secara resmi memperkuat kehadiran militernya dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta gugus tempurnya ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM).
Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi pengerahan kekuatan militer tersebut.
Ia menyebut bahwa sebuah "armada raksasa" tengah bergerak menuju posisi strategis di dekat Iran.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa prioritas utamanya tetaplah jalur diplomasi daripada konfrontasi fisik.
"Kami memiliki banyak kapal yang bergerak ke arah sana, hanya untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka jika kita tidak harus menggunakan kekuatan militer," ujar Trump, seperti yang diberitakan CNN.
Pengerahan ini mencakup kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln yang didampingi oleh sejumlah kapal perusak berpeluru kendali.
Armada ini membawa ribuan personel serta puluhan jet tempur yang siap dioperasikan dalam waktu singkat jika perintah dari Gedung Putih turun.
Lantas, apa saja persiapan Iran dalam menghadapi "armada raksasa" AS?
Baca juga: Inggris Siapkan Pasukan Tempur, Janji Lindungi Negara-Negara Teluk Jika Konflik AS-Iran Meletus
1. Peningkatan Status Siaga Tempur
Mengutip Al Jazeera, Iran telah menginstruksikan seluruh cabang angkatan bersenjatanya, termasuk Garda Revolusi (IRGC) dan militer reguler, untuk berada dalam posisi "jari di atas pelatuk".
Ini mencakup kesiapan sistem pertahanan udara di sekitar objek vital.
2. Mobilisasi Sistem Pertahanan Rudal dan Drone
Iran mengandalkan baterai rudal darat-ke-laut dan armada drone bunuh diri sebagai strategi asimetris untuk menandingi kehadiran kapal induk USS Abraham Lincoln di perairan Teluk.
3. Diplomasi Regional sebagai Benteng Politik
Selain mempersiapkan persenjataan, Iran juga tengah mempererat hubungan dengan negara tetangga di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan kunjungan darurat ke negara tetangga seperti Turki.
Langkah ini bertujuan untuk menggalang dukungan politik regional dan memastikan bahwa wilayah udara negara tetangga tidak digunakan oleh AS untuk melancarkan serangan.
4. Strategi Penangkalan
Teheran secara terbuka memperingatkan bahwa setiap agresi militer AS akan dibalas dengan serangan balik yang "belum pernah terlihat sebelumnya", yang kemungkinan menyasar pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah serta aset sekutu Washington.
Baca juga: 10 Negara dengan Militer Terkuat di Asia 2026: Indonesia Lampaui Iran dan Israel
5. Pengamanan Fasilitas Nuklir dan Strategis
Mengingat ancaman Trump yang spesifik menyasar program nuklir, Iran telah memperketat pengamanan di lokasi-lokasi pengayaan uranium dan memindahkan beberapa aset penting ke fasilitas bawah tanah yang lebih dalam.
6. Kesiapan Perang Total
Berbeda dengan ketegangan tahun-tahun sebelumnya, retorika pejabat Teheran saat ini menunjukkan peralihan fokus dari meja perundingan sepenuhnya ke persiapan konflik fisik
AS Lakukan Latihan Tempur Skala Besar
Selain pengerahan aset laut, Angkatan Udara ke-9 AS (CENTCOM) juga mengumumkan dimulainya latihan kesiapan tempur selama beberapa hari.
Latihan ini bertujuan untuk menguji kemampuan personel dalam menyebarkan kekuatan udara secara cepat dan akurat di bawah kondisi yang sulit.
Komandan AFCENT, Letjen Derek France, menyatakan bahwa latihan ini adalah bukti nyata kesiapan AS bersama mitra regionalnya.
"Personel kami membuktikan bahwa mereka mampu beroperasi dan menghasilkan misi tempur dalam kondisi yang menuntut—secara aman, tepat, dan berdampingan dengan mitra kami," tegasnya, dikutip dari CNN.
Langkah militer AS ini langsung memicu reaksi global.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya pengiriman pasukan ke Timur Tengah dan mendesak semua pihak untuk menahan diri guna menghindari perang terbuka.
Di sisi lain, para pengamat menyebut bahwa penguatan militer ini merupakan bagian dari strategi "tekanan maksimum" Trump untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan mengenai program nuklirnya.
Situasi ini pun berdampak pada pasar global, di mana harga komoditas strategis mulai menunjukkan fluktuasi akibat ketidakpastian keamanan di jalur perdagangan energi dunia.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Baca tanpa iklan